|

(Suara Pembaruan - 27 Agustus 2003)
oleh : J Drost, SJ (alm)
Tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membantu anak menjadi orang
dewasa mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah sosialisasi!
Semua manusia muda, sampai di pelosok pun, telah atau mulai mengalami
modernisasi dan menikmatinya. Kata dasar modernisasi adalah kata
Latin modus, artinya: cara. Kemudian timbul kata Prancis mode, yaitu
cara khusus mengenai berpakaian, berdandan, memangkas rambut, berhias
sampai bergagasan. Lantas orang yang mengikuti cara, mode, itu dikatakan
modern. Usaha penyesuaian itu disebut modernisasi. Yang kemudian
artinya diterapkan kepada setiap ikhtiar guna membedakan diri dari
cara yang sudah lewat. Usaha modernisasi ini dapat bermotifkan keinginan
menyesuaikan diri dengan apa yang sekarang berlaku atau bermotifkan
kesadaran akan keharusan meninggalkan yang sudah usang demi perbaikan
hidup.
Sikap yang mendasari keinginan menyesuaikan diri dengan yang sekarang
berlaku sebetulnya bukan modernisasi, melainkan konformisme. Dalam
modernisasi sejati ada pendapat pribadi mengenai yang baru itu,
sedang dalam konformisme hanya sikap ikut-ikutan saja. Gaya konformisme
sangat kuat di antara kaum muda. Mereka baru meraih identitas diri
yang masih lemah, maka dibutuhkan pengukuhan atas identitas tersebut.
Yang amat diperlukan adalah diterimanya oleh kelompok baya, peer
group, yang dianggap paling modern.
Apakah sebetulnya kelompok tersebut modern atau kolot pandangan
hidupnya, bukan hal penting. Yang dicari adalah pengukuhan dan penggalangan
lewat diterima oleh kelompok baya. Kelompok itu akan menuntut penyesuaian
mutlak guna mempertahankan identitas kelompok. Jadi, pengukuhan
demi menopang identitas diri yang masih lemah itu diperoleh lewat
konformisme. Kalau kelompoknya sungguh-sungguh mendukung modernisasi,
ia akan ikut. Namun, bila mereka bernostalgia akan hidup primitif,
suatu mode baru, ia pun akan suka hidup primitif.
Berbahaya
Konformisme inilah yang berbahaya, karena mematikan identitas
diri. Selama pada masa perkembangan hanya ikut-ikutan saja,
orang muda akan menjadi orang dewasa yang tidak dapat bertanggung
jawab, tidak berinisiatif, dan pembeo belaka. Kegotongroyongan dan
mental pasrah terserah nasib, yang mudah terhanyut dalam arus masyarakat,
sangatlah kuat. Orang yang mengungkapkan kepribadiannya yang khas
sangat mudah dicap individualis, sombong, ingin menonjol, dan sebagainya.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka pada pakaian seragam,
satu bahasa, satu gerak dan sebagainya; penuh dengan orang yang
suka ikut-ikutan, dan berkecenderungan latah ikut mode macam-macam
tanpa berpikir, apa perlu atau tidak, baik atau tidak. Lebih suka
hanyut dalam arus daripada ribut-ribut, walaupun jelas arus itu
keliru. Jarang ditemukan orang yang benar-benar berkepribadian,
dan yang berani menanggung risiko untuk teguh mampu bersikap lain
dari sikap kebanyakan orang yang memang kaprah tersebar luas, tetapi
salah. Seolah-olah kita berpendirian "lebih aman hancur bersama-sama
orang banyak daripada benar lagi selamat tetapi sendirian".
Yang sekarang amat memprihatinkan adalah bahwa konformisme itu,
yang menjadikan mereka orang yang dikolektivisasi, tidak diatasi
oleh pendidikan yang mendewasakan, akan tetapi justru terus-menerus
diperkuat oleh pendidikan yang ciri khasnya seragam. Sistem pendidikan
maupun pembelajaran kita mendukung kolektivisasi, dengan demikian
justru mengubah pribadi-pribadi kreatif menjadi penurut.
Proses ini sudah dimulai pada saat manusia lepas dari keadaan yang
diciptakan Tuhan, yaitu keluarga. Mulai TK sampai dengan SMU dan
SMK, segala-galanya harus seragam. Pakaian, sepatu, peci, rambut,
semua uniform ialah bentuk yang sama. Seragam. Di perguruan tinggi
tidak ada pakaian seragam. Namun, kurikulum, sistem ujian, matakuliah-matakuliah
efektif, praktikum, semua seragam dan sama. Keseragaman berpikir.
Kreatif? Mustahil. Menjadi pegawai negeri, pakaian seragam; dan
di kantor-kantor terdapat buku pedoman, buku petunjuk pelaksanaan,
agar tidak ada ruang berpikir bebas dan hanya boleh mengikuti pikiran
yang berkuasa. Terjadi kolektivisasi secara mutlak. Apakah ini orang
yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat modern? Jelas bukan!
Pembangun masyarakat modern adalah mereka yang tahu akan dan menerima
baik keunggulan maupun kelemahannya. Ia tidak dihinggapi oleh kerendahan
hati palsu, karena ia sadar akan dan bangga atas kepribadiannya
yang berharga dan penting juga bagi sesama. Ia mempergunakan kemampuannya
secara penuh. Ia pantang mundur kendati ada kekurangan padanya.
Ia menerima dirinya sendiri maupun orang lain apa adanya. Ia tidak
berkelit menghadapi kenyataan, sebaliknya ia berani to face the
facts, beradu dada dengan kenyataan. Pendek kata, laki-laki dan
perempuan yang kompeten, bertanggung jawab dan penuh perhatian untuk
sesama mereka. Mereka adalah pribadi mandiri dan kreatif yang merupakan
daya manusia, human resources, untuk modernisasi sejati.
Lagi, yang memprihatinkan adalah bahwa sistem pendidikan dan pembelajaran
kita, sistem persekolahan kita, mustahil menjadi sumber daya manusia
itu, hanya bisa menjadi sumber anggota kolektivisme yang mustahil
berkepribadian dan mustahil kreatif. Bukan karena orang Indonesia.
Anak-anak Indonesia amat kreatif dan kadar kemandiriannya sangat
tinggi, karena mereka belum masuk sistem kolektivisasi yang disebut
sekolah sampai dengan perguruan tinggi.
Kolektivisasi itu adalah musuh utama dari sosialisasi. Sosialisasi
adalah usaha menjadikan manusia muda menjadi pribadi dewasa mandiri
yang kompeten, bertanggung jawab dan memiliki kepedulian sosial
tinggi. Pribadi itu percaya akan diri sendiri, tidak merasa rendah
diri, terbuka, dan menerima semua orang lain, walau orang itu berbeda
pendapat. Sebaliknya, hasil kolektivisasi adalah orang seperti
anggota kawanan, tidak berkepribadian, selalu bertumpu pada orang
lain dan pendapatnya.
Sekolah-sekolah kita mustahil mengadakan sosialisasi. Selain sistem
persekolahan kita, sikap para pengajar dan pendidik yang masih amat
feodal, keadaan sekolah-sekolah kita tidak memungkinkan adanya sosialisasi.
Populasi sekolah merupakan kumpulan orang muda dari SD sampai SMU,
yang terdiri atas individu-individu yang tidak mempunyai tujuan
lain selain mengembangkan intelektualitas masing-masing. Itulah
memang hakikat sebuah sekolah. Hubungan antara individu satu dengan
individu yang lain terjadi hanya selama beberapa jam di sebuah ruangan
yang sama. Tidak ada hubungan sedarah sedaging seperti di keluarga,
juga tidak ada hubungan senasib seperti di sebuah asrama. Masuk
ruangan itu dari mana-mana dan pergi meninggalkan ruang itu kemana-mana.
Sebuah sekolah bukanlah tempat untuk sosialisasi. Para pelajar
hanya tahu nama anak sekelas, yang lain adalah orang asing bagi
mereka. Kalau dari satu kelas ada yang sungguh-sungguh menjadi teman,
itu bukan karena sekelas akan tetapi karena tetangga sekompleks,
seorganisasi, Gereja, Masjid, atau seperkumpulan olahraga. Memaksa
sosialisasi dengan mewajibkan mengikuti salah satu ekstrakurikuler
adalah salah besar, karena akibatnya justru kebalikannya, yaitu
kolektivisasi dan kebencian terhadap ekstrakurikuler. Sosialisasi
berasal dari kata Latin socius yang berarti teman, rekan, sahabat.
Masakan persahabatan bisa dipaksakan dan diorganisir?
Sebab Lain
Masih ada sebab lain, mengapa sosialisasi tidak mungkin terjadi
di sekolah-sekolah di Indonesia. Kebanyakan orangtua tidak mendidik
anak mereka untuk menerima diri sendiri apa adanya. Tidak boleh
ada anak yang lebih daripada anak mereka. Akibatnya pelajar kita
pasif, tidak berani bertanya di kelas. Itu benar. Sebab kalau seorang
pelajar bertanya, seluruh kelas mulai berteriak goblok-goblok-goblok
atau carmuk-carmuk-carmuk (cari muka). Tidak boleh ada anak lain
yang menonjol. Pelajar-pelajar tidak berani mendapat nilai tinggi,
karena langsung dicap sombong, egoistis. Saya alami bahwa lima anak
menteri melarikan diri dari SMU-SMU saya karena diteror oleh pelajar-pelajar
lain "Kamu diterima karena ayahmu menteri". Mana tahan!
Di UI terjadi yang sama.
Itulah pengalaman saya selama 16 tahun di sekolah-sekolah favorit
di Jakarta. Anak-anak kita amat iri hati. Tidak dapat menerima bahwa
di sekolah ada pelajar yang lebih pandai dari mereka atau orang
tua yang lebih tinggi posisinya atau lebih kaya. Tidak ada masalah,
selama pelajar tidak mengetahui siapa orangtua pelajar-pelajar lain.
Itulah akibat pola pendidikan tertentu yang tidak menjadikan anak
menerima diri apa adanya.
Ada anak sulung yang prestasinya di sekolah 6-6,5. Adiknya amat
pandai, 9 itu prestasinya. Ibu muncul dan menegur si adik. Jangan
menonjol, 7 cukup karena nanti kakakmu tersinggung. Kedua anak ini
hancur. Yang sulung merasa didukung bahwa tidak boleh ada anak yang
lebih pandai daripada dia. Ia makin iri hati. Adiknya mogok studi.
Ada hasil malah dimarahi. Bagaimana cara yang baik mendidik kedua
anak itu? Kepada yang sulung harus diberitahu bahwa Bapak dan Ibu
puas dengan nilai-nilainya. Tidak perlu lebih, tiap-tiap anak harus
berprestasi sesuai dengan kemampuannya. Ia harus bangga bahwa mempunyai
adik yang pandai. Kepada si adik: Belajarlah terus, berprestasilah
sesuai kepandaianmu. Kami sekeluarga bangga atas nilai-nilaimu.
Kamu boleh bangga, tetapi jangan menganggap remeh mereka yang tidak
sepandai kamu. Untuk kehidupanmu nanti yang penting tidak hanya
menjadi orang pandai. Dua anak ini akan menjadi pribadi dewasa mandiri.
Banyak masalah di sekolah ber-asal dari sikap Ibu yang menuntut
bahwa semua anaknya harus menjadi pandai, peringkat I, kalau perlu
memakai guru-guru les. Kepribadian anak yang diperlukan demikian
akan menjadi amat lemah, tidak mempunyai rasa percaya diri. Sosialisasi
gagal.
Sekolah pada umumnya dan keadaan sekolah di Indonesia pada khususnya
bukan tempat yang baik untuk sosialisasi. Keluarga dan masyarakat
itulah tempat orang menjadi manusia yang berkepedulian sosial tinggi.
Penulis (semasa hidupnya) adalah pemerhati pendidikan.
|