|

JNB Tairas, 2002
Telah empat tahun Indonesia dilanda krisis ekonomi yang paling
parah yang pernah dialaminya. Bagi Indonesia sebenarnya hal itu
merupakan sesuatu yang sangat kontradiktif, mengingat kekayaan alamnya
yang sangat melimpah. Bahkan ada yang mengatakan, kekayaan alam
Indonesia nomor tiga terbesar di dunia. Empat puluh tiga tahun yang
lalu Arthur Goodfriend, seorang pengamat
ekonomi Amerika Serikat mengatakan dalam bukunya tentang Indonesia
berjudul Rice Roots ( New York : Simon E. Schuster, 1958) : "Only
The United States and Soviet Union surpassed it natural resources.
Its export of oil, rubber, tea, kapok, spice, palm oil and other
coconut products placed Indonesia among the most productive of Asian
economics, yet no one knew how much coal, bouxite, uranium, manganese,
copper, nickel, silver and gold lay burried in her mountains, or
from her rivers, coastal waters, virgin forests and courtless
acres of unbroken soil". Menanggapi pernyataan Goodfriend yang
begitu meyakinkan tentang kekayaan alam Indonesia, mestinya Indonesia
sudah lama menjadi suatu kekuatan ekonomi dunia. Namun kenyataan
justru sebaliknya, kemiskinan ada adalah mencolok.
Dewasa ini ada sekitar 80 juta penduduk berada dibawah garis kemiskinan.
Sesungguhnya sangat ironis, bahwa negara yang begitu kaya sumber
alamnya, rakyatnya begitu miskin. Mengapa hal itu bisa terjadi ?
Sumber Daya Manusia Yang Lemah
Keberhasilan suatu negara dalam pembangunan ekonomi tidak hanya
bergantung pada kekayaan alamnya, tetapi lebih banyak tergantung
pada kualitas manusianya, atau ungkapan populer dewasa ini, sumber
daya manusia (SDM)nya. Ternyata ada negara yang Sumber Daya Alamnya
(SDA)-nya terbatas, namun berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia
yang tidak kalah dari negara-negara maju yang lain, karena kualitas
SDM-nya yang luar biasa. Misalnya dengan Singapore, suatu negara
pulau kecil yang sumber daya alam (SDA) nya sangat
terbatas, terbukti menjadi negara paling makmur di ASEAN, berkat
SDM nya yang tinggi kualitasnya.
Bagaimana dengan Indonesia?, Dengan kekayaan alam yang begitu besar,
Indonesia gagal total dalam pembangunan ekonomi, akibat SDMnya yang
sangat lemah. Dalam acara wisuda Sekolah Tinggi Teknik Telekomunikasi
yang diadakan
di Bandung 1994, direkturnya menyatakan, bahwa di lingkungan negara-negara
ASEAN, mutu SDM Indonesia tergolong rendah. Dibandingkan dengan
Malaysia dan Muangthai saja, Indonesia kalah jauh (Suara Pembaruan
7 Mei 1994). Belum lama ini United Nation Development Programme
(UNDP) mengadakan penyelidikan tentang keadaan SDM di seluruh dunia.
Ternyata dari 174 negara yang
diselidiki. Pada tahun 2000 Indonesia berada di peringkat 109, jauh
di bawah negara-negara ASEAN yang lain. Berikut ini kutipan sebagian
dari tabel yang disajikan :
Singapura : Peringkat 22
Brunai : Peringkat 25
Malaysia : Peringkat 56
Thailand : Peringkat 67
Filipina : Peringkat 77
Indonesia : Peringkat 109
Demikian kenyataannya SDM Indonesia yang begitu lemah (G. Ali Khomsan
dalam Kompas 27 September 2000), kelemahan SDM ini berlaku hampir
disemua bidang pembangunan. Di bidang pertanian misalnya, selama
lebih sepuluh tahun terakhir ini Indonesia terus mengimpor beras
hingga jutaan ton setiap tahunnya. Berita terakhir mengatakan kita
mengimpor hampir dua juta ton (Kompas 30 September 2000). Dengan
lahan yang begitu luas untuk sawah dan ladang, kita gagal dalam
swasembada beras. Di bandingkan dengan Vietnam dan Thailand yang
dengan lahan terbatas berhasil menjadi pengekspor beras.
Dalam suatu tayangan televisi diberitakan bahwa usaha pemerintah
menghentikan impor jagung belum berhasil, sedangkan kacang kedelai
yang begitu gampang tumbuh di Indonesia, sejak tiga tahun yang lalu
harus diimpor ratusan ribu ton dari Amerika Serikat dengan alasan
mutu kedelai dalam negeri rendah, dan sebagainya. Hal itu berarti
bahwa para pakar pertanian kita gagal untuk membudidayakan tanaman
kedelai yang bermutu. Apa akibatnya setelah krisis ekonomi? Harga
kedelai impor naik tajam sehingga tidak terjangkau lagi oleh
para pengusaha tahu dan tempe sehingga banyak yang terpaksa gulung
tikar. Berapa banyak tenaga harus menganggur ? Bagaimana pula dengan
gula pasir? Pada zaman kolonial, Indonesia tergolong salah satu
negara produsen gula terbesar di dunia. Kita masih ingat Jatiroto
yang memiliki pabrik gula pasir terbesar pada waktu itu. Dalam suatu
tayangan televisi diberitakan bahwa 60%
dari kebutuhan gula berasal dari impor. Sebelumnya diberitakan "Akibat
membanjirnya impor gula belakangan ini, 50 pabrik gula dalam negeri
terpaksa di tutup". (Suara Pembaruan 26 Pebruari 2000). Berapa
banyak tenaga kerja kehilangan mata pencahariannya? Bagaimana dengan
nasib para petani tebu?
Di bidang kehutanan, sejak tahun 1990 an telah terjadi kerusakan
hutan seluas 1,6 juta hektar per tahun. Menurut laporan terakhir,
pada tahun 2000, 14,5 juta hektar akan musnah. Sebab utamanya adalah
penebangan liar yang tak terkendali jika hal ini dibiarkan berlanjut
maka sepuluh tahun lagi kita akan merindukan hutan (Kompas 18 Oktober
2000). Bagaimana dengan sumber
pertambangan kita yang menurut Arthur Goodfriend (op.cit) sangat
melimpah, namun katanya banyak masih tersembunyi di pegunungan,
sungai dan hutan belantara? Hal ini dikatakan 40 tahun lalu.
Apa kata Dr. Ir. Paul Suharto, mantan Kepala Badan Koordinasi Survei
dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) ? Potensi sumber pertambangan
kita mulai dari batubara, gas alam (kabarnya yang terkaya di dunia)
sampai pada emas masih belum banyak digali sehingga tidak sepenuhnya
dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Di bidang kelautan, Indonesia dapat disebut sebagai negara maritim
terbesar, Bagaimana perusahaan dengan angkutan lautnya? Menteri
Perhubungan dan Telekomunikasi, pada waktu itu Agum Gumelar, mengemukakan,
9500 angkutan barang ke luar negeri masih di kuasai masih dikuasai
kapal-kapal asing dan untuk angkutan antar pulau hanya 55% yang
di tangani oleh kapal-kapal kita (Kompas 20 Januari 2001). Untuk
perikanan laut Indonesia dikatakan terkaya di wilayah Asia Pasific,
tetapi ternyata armada perikanan kita kalah bersaing. Apakah kita
sudah memiliki kapal yang dilengkapi dengan pengolah ikan atau pengalengan
ikan? Yang sering diberitakan adalah pencurian ikan oleh kapal-kapal
asing yang menurut informasi terakhir mencapai sekitar 1,2 juta
ton per tahun, yang mengakibatkan kerugian ratusan juta dolar AS
(Kompas 18 Oktober 2000). Yang paling "lucu" adalah berita
tentang impor garam sebanyak ratusan juta ton per tahun. Apa sulitnya
membuat garam ? Mengapa tidak meningkatkan pabrik-pabrik yang telah
ada atau mendirikan yang baru yang pasti akan menyerap ribuan tenaga
kerja. Apakah air laut kita sudah berubah menjadi tawar?
Kita juga sedang menyaksikan kehancuran sistem perbankan yang seharusnya
menjadi pendorong utama perekonomian nasional, karena lagi-lagi
tidak dikelola secara profesional. Demikianlah keadaan perekonomian
kita yang sangat parah, walaupun kita
memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Kekayaan alam yang tidak
banyak tergarap karena SDM yang sangat lemah. Pertanyaan berikut
adalah, apa sebabnya SDM kita begitu lemah?
Kemerosotan Mutu Pendidikan.
Tujuan utama dari Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa. Secara khusus, hal ini berarti meningkatkan Sumber Daya
Manusia. Bagaimana situasi pendidikan di Indonesia saat ini? Sangat
suram. Delapan tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1993, Badan Pertimbangan
Pendidikan Nasional (BPPN) yang terdiri dari para pakar pendidikan,
menyampaikan kepada DPR bahwa,
berdasarkan penelitian terhadap beberapa Perguruan Tinggi serta
perorangan, mutu pendidikan di Indonesia merosot, terutama dalam
hal pembentukan sikap dan perilaku anak didik.(Suara Pembaruan
15 Desember 1993). Pernyataan yang serius itu sebenarnya bukan hal
yang baru. Ungkapan-ungkapan senada itu sudah beberapa kali dikemukakan.
Pada tahun 1990, Prof. Dr. Haryati
Subadio, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Sosial, mengakui
bahwa "Tingkat intelektual masyarakat Indonesia, dibandingkan
dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, Thailand dan
India, masih lebih rendah (Media Indonesia 15 Desember 1990).
Dalam suatu lomba mengarang yang diadakan di Kuala Lumpur Juli
1990, Indonesia yang diwakili oleh Universitas Indonesia
sudah tersisih di babak pendahuluan (Suara Pembaruan 18 Agustus
1990). Penelitian yang dilakukan oleh suatu badan internasional
dalam bidang pendidikan (International Education Association) 1992
menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan
dengan negara lain di ASEAN. Dengan nada gusar, Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan, pada waktu itu
Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro membantah keras, Katanya harus diadakan
penelitian ulang untuk membuktikan bahwa mutu pendidikan Indonesia
rendah (Suara Pembaruan 2 Mei 1997). Anehnya terhadap pernyataan
Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, beliau tidak membantah,
bahkan pada setelah pada tahun 1997, Prof. Frans Magnis Suseno,
dalam Lokakarya Profesi Guru Menghadapi
Tantangan Abad 21, menyatakan "Mutu pendidikan masyarakat Indonesia
masih sangat menyedihkan" (Suara Pembaruan 2 April 1997) dan
tidak ada yang membantah. Pertanyaan berikut : apa sebabnya mutu
pendidikan kita begitu merosot?
Budaya Baca Yang Rendah.
Ada suatu ungkapan yang menyatakan "Membaca adalah kunci keberhasilan
di sekolah (Reading is the key to success in school). Ungkapan ini
dibahas secara menarik dalam buku "The World Book student handbook".
? Chicago : World Book Encyclopedia, 1981. Dalam bab "Why is
reading important" dibahas tentang sekelompok guru di Amerika
Serikat yang mengadakan penyelidikan
tentang murid sekolah dan problema belajar. Salah satu kesimpulan
mereka yang menarik adalah bahwa seorang murid yang tidak berhasil
dalam suatu bidang tertentu umpamanya matematika, masih bisa berhasil
dalam bidang studinya yang lain. Tetapi seorang murid yang malas
membaca hampir selalu tidak berhasil dalam semua bidang studinya.
Mula-mula mereka merasa agak aneh, namun setelah disimak lebih jauh
segera mereka menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui
untuk dimengerti harus dibaca.
Seorang pelajar yang tidak banyak membaca akan mendapat kesulitan
dalam melanjutkan studinya, karena bila ia nanti menjadi mahasiswa,
hampir seluruh waktu studinya terserap untuk membaca.
Hal ini berlaku juga pada seluruh kegiatan manusia dalam masyarakat.
Studi, penelitian dan semua jenis pekerjaan dan kegiatan lain memerlukan
bacaan untuk dimengerti dan dimanfaatkan; instruksi-instruksi dan
pedoman-pedoman harus dibaca untuk dilaksanakan secara efektif sesuai
tujuannya. "The simplest jobs require some reading". Demikianlah
pentingnya minat baca. Bukan saja untuk pendidikan pribadi, tetapi
juga untuk semua kegiatan dalam pembangunan bangsa. Bagaimana dengan
minat baca masyarakat Indonesia? Sangat memprihatinkan. Berikut
ini beberapa fakta dan pengakuan yang menunjukkan betapa rendahnya
minat baca
masyarakat Indonesia. Dalam suatu pertemuan yang diadakan pada tahun
1991, Menteri Penerangan Harmoko mengakui bahwa budaya baca masyarakat
Indonesia sangat rendah (Media Indonesia 4 Maret 1991). Pada hari
aksara internasional ke 31 tahun 1996, mantan Presiden Suharto menyatakan
keprihatinan-nya karena rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia
(Suara Pembaruan 27 Juni 1996).
Dalam suatu penelitian yang diadakan oleh Dra. Berlina Sjahudhym
dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dikatakan bahwa 81,58%
responden mahasiswa UI mengaku kurang membaca karena malas (Kompas
5 Maret 1990). Lain lagi yang dikatakan almarhum Prof. Dr. Slamet
Imam Santoso lebih dari tiga puluh tahun yang lalu; "Pada umumnya
mahasiswa Indonesia adalah diktator, artinya yaitu studinya hanya
mengandalkan diktat". Namun beliau me-nambahkan, "Ketiadaan
gairah membaca di kalangan mahasiswa bersumber
pada sistem pendidikan yang tidak menanamkan antara lain pentingnya
membaca sejak di Sekolah Dasar (Mahasiswa Indonesia, Th. 4 no.
144, Maret 1969). Dengan nada yang hampir sama almarhum Prof. Soegarda
Poerbahawatja mengatakan: "Rendahnya mutu pendidikan di Perguruan
Tinggi disebabkan oleh pelajaran-pelajaran membaca sejak di Sekolah
Dasar yang kurang sanggup
merangsang kegairahan murid-muridnya". (Buletin Perpustakaan
dan dokumentasi, Th. 2, no.4, 1973); ada lagi yang mengungkapkan
bahwa para srjana dan cendekiawan termasuk para dosen kurang minat
baca sehingga mempengaruhi mutu masyarakat ilmiah: ciri masyarakat
ilmiah itu harus banyak membaca (Kompas 25 Juni 1990). Almarhum
Imam Waluyo dalam Berita buku yang disebarkan oleh IKAPI menjelang
Bulan Buku Nasional 1989, mengatakan : "Ada yang mengatakan
bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, bahkan tergolong
salah satu terendah di dunia". Agak aneh sebenarnya karena
Indonesia di akui oleh dunia internasional sangat berhasil dalam
pemberantasan buta huruf. Apa sebabnya budaya baca masyarakat Indonesia
sangat rendah?
Peranan Perpustakaan Sekolah.
Sesungguhnya yang paling efektif untuk meningkatkan budaya baca
adalah melalui pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sejak di Sekolah
Dasar. Berbicara tentang perpustakaan, dalam hal ini Perpustakaan
Sekolah Dasar, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Pertama, tersedianya ruangan yang cukup luas dengan perlengkapannya
termasuk ruang baca yang menarik.
Kedua, tersedianya koleksi bahan bacaan selengkap mungkin
yang secara khususdiseleksi untuk Perpustakaan Sekolah.
Ketiga, tersedianya pengelola yang khusus dilatih untuk
perpustakaan sekolah; yang paling ideal adalah seorang guru dengan
sendirinya menguasai masalah pendidikan dan telah di latih secara
khusus untuk mengelola perpustakaan sekolah.
Keempat, sebagai sasaran utamanya adalah pelayanan yang
aktif, artinya bukan menunggu anak-anak dengan sendirinya datang
ke perpustakaan tetapi melibatkan unsur "paksaan", antara
lain untuk kelas satu dan dua sewaktu waktu seluruh diajak kelas
masuk ke perpustakaan dengan didampingi oleh gurunya dan dilayani
bersama pustakawan, untuk memperkenalkan buku-buku yang cocok bagi
mereka. Semacam bimbingan membaca. Kemudian diadakan juga apa yang
disebut story telling, yaitu guru atau pustakawan memilih buku cerita
yang menarik dan membacakan kepada mereka. Untuk kelas-kelas yang
lebih tinggi para guru perlu memberi banyak pertanyaan yang mewajibkan
anak-anak menggunakan sumber perpustakaan, mulai menggunakan buku-buku
rujukan seperti kamus, atlas, ensiklopedi (sekarang sudah ada ensiklopedi
yang berjudul "Ensiklopediku yang pertama, khusus untuk anak-anak)
dan buku
pedoman lainnya. Sejak kelas empat setiap murid diwajibkan membaca
satu buku dalam waktu satu bulan dan membuat sinopsis buku yang
diberikan tersebut dengan bimbingan guru. Dengan sistem itu berarti
setelah tamat setiap murid telah membaca sekitar tiga puluh lima
buku, suatu prestasi yang sangat tinggi. Namun yang terpenting dalam
sistem ini adalah membekali para murid dengan kebiasaan membaca
(reading habit) suatu kebiasaan intelektual yang sangat mereka perlukan
untuk pendidikan seumur hidup (lifelong education).
Dengan sistem ini berarti Perpustakaan Sekolah terlibat langsung
dalam program belajar-mengajar di sekolah dan merupakan komponen
pelengkap dari sistem pendidikan serta memainkan peran yang amat
penting dalam proses belajar-mengajar.
Penulis (semasa hidupnya) adalah pemerhati pendidikan.
|