|

Teknologi
informasi dengan logikanya sendiri telah berinteraksi dengan user-nya
di seluruh dunia.
Dunia
tak berjarak lagi dan batas nation tak lagi kuasa mengatur.
Budaya
dunia menjadi hampir seragam.
Inilah
globalisasi.
Oleh : Amir Sodikin | Kompas | Sabtu 10 Desember
2005
Seharusnya ini kesempatan masyarakat sipil
untuk bertumbuh dan berkembang. Asal memiliki satu kunci, yaitu
jangan sembunyi, apalagi lari dari identitas lokal. Namun, ternyata
Indonesia yang kaya budaya itu tak percaya diri. Memilih
melebur dengan budaya anonim bergaya global. Sayangnya, etosnya
makin melempem. Indonesia makin kehilangan identitas. Hanya menjadi
kumpulan orang-orang yang tak lagi memiliki akar local culture.
Keindonesiaan dengan kebhinekaan dan kebesaran Nusantaranya itu
kini tak berarti apa-apa menghadapi gejolak-gejolak budaya luar.
Di saat kekuatan nation sedang tidak sehat
dan gempuran budaya global tak terelakkan, semangat sukuisme dan
provinsialisme makin menguat. Terkadang keluar dari konteks keindonesiaan.
Seorang panelis mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap
persoalan ini. Jika tidak segera diselesaikan, maka proses "state
building" bisa gagal.
Aset natural, sosial, polifik, dan budaya
terus mengalami kebangkrutan dan bisa menjerumuskan pada proses
"self-destroying nation", penghancuran nation dengan
sendirinya. Paradoks global memang sedang terjadi di Indonesia.
Negeri agraris dan memiliki konten lokal yang kuat itu sedang memimpikan
menjadi masyarakat modern dan tanpa disadari dengan gembira telah
menanggalkan identitas lokalnya.
Persoalan identitas dan krisis budaya ini
memiliki kaitan talitemali dengan variabel lain sehingga harus segera
dipetakan secara komprehensif spektrum permasalahannya. Tujuan akhirnya
mencari prioritas penyelesaiannya.
Sejarah bangsa-bangsa membuktikan, semua
negara atau bangsa yang ingin maju harus memiliki modal akar budaya
lokal. Negara kecil seperti Jepang, misalnya, kental sekali kejepangannya.
Begitu pula China, khas dan jelas. Negara muda seperti Inggris dan
Australia juga memiliki konsep yang kuat untuk masalah identitas
lokal ini.
Rumah budaya
Bagaimana dengan Indonesia? Kata seorang
panelis, sesungguhnya kaya sekali, namun justru karena kekayaannya
itu menjadi salah manajemen dan malah rusak. Akibatnya, budaya unggul
yang berakar pada budaya lokal itu tak menemukan rumah budayanya.
Indonesia sebenarnya memiliki Aceh, punya
Minang, juga Sunda, Bugis, Dayak, Jawa, dan masih banyak lagi. Namun
selama Orde Baru, rumah budaya itu dibiarkan lapuk dan hancur, sementara
pada tingkat atas hukum politik berantakan. Jelas saja rumah budaya
itu tak menghasilkan putra-putra terbaiknya untuk maju ke pentas
nasional, regional, apalagi internasional.
Karena itu, sekarang ke depannya bagaimana
Indonesia bisa menghargai lagi kekayaan lokal itu. sebagai basis
identitas nasional. Membentuk karakter bangsa dengan disertai penegasan
identitasnya agar tak lagi mudah dipenetrasi budaya luar.
Budaya lokal inilah yang akan memberikan
kontribusi identitas nasional. Identitas nasional tanpa punya akar
lokal akan rapuh. Terlebih jika berbenturan dengan peradaban global
tanpa akar nasional akan semakin rapuh.
Akhir-akhir ini kita telah kehilangan kekuatan
ke dalam dan tak memiliki kepercyaan untuk melahirkan manusia-manusia
unggul. Selalu minder, selalu tak yakin bahwa budaya lokal bisa
menjadi modal di kancah global.
Kini yang bisa dilakukan adalah bagaimana
kembali mengaudit aset budaya yang tercerai-berai dan sudah ditinggalkan
itu. Aset-aset budaya ini bisa berasal dari komunitas etnis, bisa
juga aset-aset unggulan pada pribadi. Nilai-nilai universal bisa
memperkaya budaya unggul dan bisa bertemu dengan nilai-nilai lokal
secara saling melengkapi, tidak harus saling berbenturan. Indonesia
yang baru juga harus mampu membaca tren kompetisi global. Tanpa
kemampuan membaca, Indonesia bisa terkungkung.
Tak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia
masih membutuhkan munculnya pribadi-pribadi yang memberikan sumber
inspirasi atau panutan pada masing-masing lingkungan. Mulai lingkungan
sosial masyarakat, korporasi, hingga birokrasi.
Belajar kepada perjalanan sejarah dunia,
Islam pernah besar karena dia punya sifat akomodatif dan apresiatif
pada budaya Yunani, India, juga pada ajaran Plato dan Aristoteles.
Amerika Serikat, kata seorang panelis, juga menjadi negara besar
karena ada keterbukaan untuk menerima. Begitu pula sejarah Jepang.
Jadi semua peradaban besar yang pernah dilahirkan
di dunia adalah hibrida, tapi dia punya akar identitas dan karakter
ke dalam. Jika dia tidak punya karakter ke dalam, maka niscaya peradaban
agung itu bisa roboh. Dalam konteks ini, sebenarnya Indonesia kaya
sekali. Hanya dibutuhkan suatu visi agar Indonesia ke depan bisa
diselamatkan.
Para panelis mengidentifikasi
dua hal yang harus ditancapkan bersama
pengukuhan budaya, yaitu dengan pendidikan yang bagus dan dengan
pemberdayaan masyarakat. Masyarakat
harus kembali diingatkan untuk dilibatkan dan berpartisipasi dalam
proses state building. Saatnya masyarakat bersama-sama mengaudit
aset-aset budaya yang ada untuk membangun kembali rumah budaya Indonesia
agar tak roboh diterjang tsunami sekalipun.
Jangan sampai masing-masing sibuk dan hanya
peduli pada rumahnya masing-masing. Partai politik jangan sibuk
sendiri menimbun modal, begitu pula perguruan tinggi jangan sampai
hanya sekadar menjadi menara gading. Semua pihak diharapkan terlibat
untuk membangun rumah Indonesia dan bersamasama melahirkan macan-macan
Asia. Setidaknya.
  
|