kembali ke halaman depan

 

 

links & direktori

 

 

 


Oleh : Indira Permanasari

 

Beradaptasi dengan globalisasi yang biasanya oleh dunia pendidikan dilekatkan dengan label serba "internasional" serta penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, bukan berarti melupakan budaya serta bahasa ibu. Bahasa ibu dan bahasa nasional tetap merupakan hal terpenting. Oleh karena itu, dalam pendidikan bahasa ibu tetap harus mendapat perhatian utama.

 

Universitas Rangsit di Bangkok, Thailand, misalnya, telah menyadari bahwa lembaga pendidikan tidak dapat menutup mata terhadap arus global dan penggunaan bahasa asing dalam pergaulan atau kompetisi internasional. Hanya saja, mereka juga tidak menghendaki bahasa ibu mereka tergilas dan dilupakan. Penggunaan bahasa ibu dan bahasa asing di dunia pendidikan semestinya berimbang.

 

"Kebijakan pemerintah yang menginginkan sekolah-sekolah menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya tidak terlalu mengena bagi kami. Bahasa ibu dan kearifan bangsa kami harus dijaga atau suatu saat nanti menghilang," kata Arthit Ourairat, Presiden Universitas Rangsit, di sela pertemuan dengan perwakilan dari perguruan tinggi Indonesia - Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Surabaya dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung di Bangkok, pekan lalu.

Sebagai gantinya, universitas tersebut mengadakan program pendidikan master bilingual atau dalam dua bahasa. Sejak setahun lalu dibuka pula Satit Bilingual School of Rangsit University (sekolah bilingual) untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan menengah pertama.

 

Model pendidikan bilingual itu dianggap lebih baik. Di samping itu, dapat sekaligus melayani kebutuhan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga perkawinan campur. Di Thailand, banyak terjadi perkawinan antara warga negara asing dan pribumi.

 

Pada masing-masing level pendidikan, komposisi penggunaan bahasa Thai dan Inggris di dalam kelas diatur, Untuk kelas pendidikan usia dini, di Satit School biasanya dimulai pada usia tiga tahun. Komposisi bahasa Inggris lebih banyak, yakni 80-90 persen. Sementara untuk level secondary (setara SLTP di Indonesia) sebaliknya, komposisi bahasa Inggris lebih sedikit, hanya 40 persen; sebagian besar menggunakan bahasa Thai. Pada tahap awal digunakan lebih banyak bahasa Inggris untuk pembentukan dasar, sedangkan untuk bahasa Thai diperoleh anak di dalam interaksi keluarga yang sudah mempunyai latar belakang budaya Thai. Oleh karena pembelajaran menggunakan dua bahasa secara bergantian, di tiap kelas terdapat setidaknya dua orang guru yang fasih berbahasa Thai dan Inggris. Masing-masing hanya boleh berbicara dengan bahasa keahliannya di dalarn kelas. Dalam pendidikan digunakan kurikulum Thailand.

 

Pihak universitas meyakini, jika seseorang dapat menguasai dan mengembangkan bahasa ibu dengan sangat baik maka terbuka peluang yang sama bagi bahasa asing atau bahasa kedua. Model pendidikan tersebut sekaligus untuk membentuk generasi barn. Namun, tentu saja bahasa asing atau bahasa kedua tersebut disesuaikan dengan kebutuhan murid atau tidak harus selalu berpasangan dengan bahasa Inggris. Bahasa internasional lain juga dapat dipakai

Pada tingkat perguruan tinggi sendiri, Universitas Rangsit sepenuhnya menggunakan bahasa Thai, kecuali di kelas internasional yang menggunakan pengantar bahasa Inggris.

 

Direktur Hubungan Internasional UPN Surabaya Wulan Retno berpendapat, tidak mudah menerapkan bilingual, sekalipun secara konsep terbilang menarik. Telah setahun ini pihaknya bekerja sama dengan Universitas Rangsit dalam bentuk beasiswa bagi staf UPN untuk mengambil gelar master dibidang pendidikan bilingual. "Hal ini masih terbilang baru sekali bagi kami, dan di Indonesia belum ada pendidikan untuk pengajar ahli bilingual. Padahal, dibutuhkan banyak tenaga pengajar karena setidaknya ada dua guru dalam satu kelas. Kalaupun kami mengirim staf untuk belajar materi itu, masih lebih untuk penjajakan sekaligus mempelajari manajemen pendidikan mereka," katanya.

Pembantu Rektor Bidang Riset dan Pengembangan Universitas Pendidikan Indonesia A Chaedar Alwasilah mengungkapkan hal senada. Pendidikan bilingual dapat saja didesain sesuai kebutuhan masyarakat di Tanah-Air, namun pasti membutuhkan waktu dan masih harus diuji kesesuaiannya.

 

Dalarn sebuah kunjungan ke Amerika Serikat, dia sempat melihat pendidikan model bilingual diterapkan untuk melayani kebutuhan pendidikan warga imigran di sana. Itu dimaksudkan agar mereka tidak tercabut dari akar budayanya.

 

Kompas | Senin, 2 Januari 2006