|
Pendidikan menurut Dalai
Lama
kutipan dari buku Ancient Wisdom Modern World, Elex Media Komputindo,
halaman 181
Pikiran manusia (lo) adalah sumber dan apabila diarahkan
dengan tepat juga merupakan solusi bagi masalah kita. Mereka yang
berpendidikan tinggi namun tidak memiliki hati yang baik dapat menjadi
mangsa yang empuk bagi kecemasan dan keresahan karena keinginan
yang tak terpenuhi. Sebaliknya, pemahaman murni tentang nilai-nilai
spiritual justru memiliki dampak yang berlawanan. Bilamana kita
mendidik anak-anak kita meraih ilmu pengetahuan tetapi tanpa rasa
iba (belas kasihan), maka sikapnya terhadap sesama mungkin akan
menjadi campuran dari rasa iri terhadap orang yang melebihi mereka
dan persaingan yang agresif terhadap rekan sebayanya, juga mencemohkan
mereka yang kurang beruntung. Ini akan menuntun kepada kecenderungan
bersifat tamak, penuh prasangka, berlebihan, dan cepat merasa tidak
bahagia. Ilmu pengetahuan memang penting. Ini bergantung pada hati
dan pikiran pemakainya.
Pendidikan lebih dari sekadar memisahkan
ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meraih tujuan yang sempit.
la juga membuka mata seorang anak bagi kebutuhan dan hak-hak sesamanya.
Kita harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa aksi mereka akan memiliki
dimensi universal. Dan kita harus menemukan cara untuk membangun
rasa simpati mereka yang wajar supaya mereka memiliki rasa tanggung
jawab terhadap sesama. Karena inilah yang sebenarnya mencetuskan
tindakan kita. Memang, kalau kita harus memilih antara pengetahuan
dan kebajikan, maka yang terakhir itu lebih bernilai. Hati yang
baik, yang merupakan buah dari kebajikan, adalah manfaat yang besar
bagi kemanusiaan. Hanya ilmu pengetahuan semata, tidaklah bermanfaat.
Lalu, bagaimana seharusnya kita mengajarkan
moralitas kepada anak-anak kita? Saya merasa bahwa, pada umumnya,
sistem pendidikan yang modern biasanya mengabaikan pembahasan tentang
masalah-masalah etika. Ini mungkin tidak dimaksudkan hanya
sebagai produk sampingan dari realitas sejarah. Sistem pendidikan
duniawi dikembangkan justru ketika institusi-institusi religius
masih amat berpengaruh di seluruh lapisan masyarakat. Karena nilai-nilai
etis dan manusiawi sebelumnya masih dianggap termasuk dalam ruang
lingkup agama maka diperkirakan segi dari pendidikan anak ini otomatis
akan terpelihara melalui pendidikan agama, baik bagi anak pria maupun
wanita. Semua ini berfungsi dengan baik hingga pengaruh agama mulai
surut. Walaupun kebutuhannya masih ada namun tidak terpenuhi, kita
harus menemukan sejumlah cara lain dalam menunjukkan kepada anakanak
bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar itu penting. Dan kita
juga harus membantu mereka untuk mengembangkan nilai-nilai tadi.
Akhirnya, tentu saja, pentingnya kepedulian
terhadap sesama dipelajari bukan dari kata-kata melainkan dari aksi/tindakan:
panutan yang kita peragakan. jadi, lingkungan keluarga itu sendiri
adalah komponen yang sangat vital dalam pendidikan anak-anak. Jika
atmosfir peduli dan welas asih absen dari rumah, jika anak-anak
diabaikan oleh orang tua mereka, maka dapat dipastikan akan ada
dampak yang merugikan. Anak-anak cenderung merasa tak berdaya dan
tidak aman, dan pikirannya sering tersiksa. Sebaliknya, apabila
anak-anak menerima kasih sayang yang tetap dan perlindungan, mereka
cenderung untuk menjadi kian bahagia dan lebih percaya diri dalam
kemampuannya. Kesehatan fisik mereka juga cenderung kian membaik.
Dan, kita merasa bahwa mereka peduli bukan saja pada dirinya sendiri
tetapi juga pada sesama. Lingkungan rumah juga penting karena anak-anak
akan belajar tingkah-laku yang negatif dari kedua orang tuanya.
Kalau, misalnya, si ayah selalu bersitegang dengan para rekannya,
atau kalau ayah dan ibu selalu berdebat kusir, maka walaupun pada
awalnya si anak mungkin merasa ini tidak menyenangkan, lambat-laun
mereka dapat memahami bahwa itu wajar-wajar saja. Pelajaran seperti
ini kemudian akan dibawa ke luar rumah dan ke dunia.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa apa yang
dipelajari anak-anak tentang tingkah-laku etis di sekolah harus
dipraktikkan lebih dahulu. Di sini, para guru memiliki tanggung
jawab khusus. Melalui tingkah laku mereka sendiri, mereka dapat
membuat anak-anak mengingat mereka sepanjang hayat. Jika tingkah
laku ini dijadikan prinsip, didisiplinkan, dan dituangkan menjadi
belas kasihan maka nilai-nilai mereka akan tertanam di benak si
anak. Karena, pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru
dengan motivasi yang positif (kun long) akan meresap lebih
dalam di benak para siswanya. Saya tahu ini dari pengalaman saya
sendiri. Sebagai bocah, saya sangat malas. Namun, ketika saya mulai
menyadari adanya kasih sayang dan kepedulian dari para pembimbing
saya, pelajaran-pelajaran mereka pada umumnya akan meresap lebih
dalam daripada jika salah satu dari mereka bersikap kasar atau tidak
berperasaan ketika itu.
Sejauh itu menyangkut kekhususan pendidikan,
itu adalah bidangnya para ahli. Karena itu, saya ingin membatasi
diri pada sejumlah saran. Urutan pertama adalah dalam upaya membangkitkan
kesadaran para kawula muda tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan
yang mendasar, lebih baik tidak menyajikan masalah-masalah sosial
melulu sebagai persoalan etis atau sebagai masalah religius. Penting
untuk menekankan bahwa apa yang kita pertaruhkan sama dengan kesinambungan
hidup kita. Dengan cara ini, mereka akan dapat melihat bahwa masa
depan terletak di tangan mereka sendiri. Kedua, saya yakin benar
bahwa dialog dapat dan harus diajarkan di kelas. Menyuguhi para
siswa dengan masalah kontroversial dan meminta mereka memperdebatkan
adalah cara yang indah untuk memperkenalkan mereka dengan konsep
memecahkan konflik tanpa kekerasan. Memang, orang akan berharap
bahwa jika sekolah-sekolah menjadikan hal ini prioritas utama maka
ia. akan memiliki dampak yang bermanfaat bagi keluarga itu sendiri.
Saat melihat orang tuanya bertengkar, seorang anak yang telah memahami
nilai sebuah dialog secara naluriah akan berkata, "Oh, bukan.
Bukan begitu caranya. Kalian harus bicara, memperbincangkan sesuatu
dengan layak."
Akhirnya, penting pula bagi kita untuk menghapus
semua kecenderungan yang mengajarkan sesama dalam cahaya yang negatif,
dari kurikulum sekolah. Tak diragukan lagi, dalam sejumlah bagian
dunia pengajaran sejarah, misalnya, justru memelihara sikap munafik
dan rasisme terhadap masyarakat lain. Tentu saja ini keliru. la
tak menyumbangkan apa pun bagi kebahagiaan manusia. Sekarang terlebih
lagi kita perlu memperlihatkan kepada anak-anak kita bahwa perbedaan
antara "negeri kita" dan "negeri Anda", "agama
saya" dan "agama Anda", hanyalah pertimbangan kedua.
Sebaliknya, kita harus mendesakkan pengamatan bahwa hak saya bagi
kebahagiaan sama kadarnya dengan hak sesama. Bukannya saya berkeyakinan
bahwa kita harus mendidik anak-anak agar meninggalkan atau mengabaikan
kultur dan tradisi sejarah mereka. Sebaliknya, yang penting adalah
menanamkan hal ini ke dalam benak mereka. Baik bagi anak-anak untuk
mencintai negaranya, agama mereka, kultur mereka, dan seterusnya.
Namun bahaya akan datang jika hal ini berkembang menjadi nasionalisme
yang kerdil, etnosentrisitas, dan kemunafikan religius. Contoh Mahatma
Gandhi amat penting di sini. Walaupun dia mengenyam pendidikan Barat
yang tinggi, dia tidak pernah melupakan atau menjadi terasing dari
kekayaan warisan kultur India miliknya
.
  
|