|
Gerak Mundur
Sungguh tak bermaksud
menghina bangsa sendiri.
Tapi, apalah jadinya
suatu bangsa yang kehilangan daya refleksivitasnya? Sudah pasti,
bangsa itu akan kehilangan wahana pembelajaran untuk menakar,
memperbaiki, dan memperbaharui dirinya sendiri.
Oleh Yudi Latif
Tanpa kapasitas pembelajaran, suatu bangsa bergerak seperti
zombie. Pertumbuhan penampilan fisiknya tak diikuti perkembangan
rohaninya. Tampilan luar dari kemajuan peradaban modern segera kita
tiru, tanpa penguasaan sistem penalarannya.
Sebagai pengekor yang baik dari perkembangan fashion dunia, kita
sering merasa dan bergaya seperti bangsa yang maju. Padahal, secara
substantif, tak ubahnya bak Peterpan yang mengalami fiksasi ke fase
"kanak-kanak' (jahiliyah). Bahkan bisa lebih buruk lagi.
Dalam strategi kebudayaan, kita cenderung mempertahankan yang buruk
dan membuang yang baik.
Kian hari, penduduk kota-kota metropolitan di Indonesia kian terperangkap
dalam jejaring kellihan. Bersama eskalasi pertumbuhan supermal
yang dibangun di sembarang tempat, rongga-rongga "agora"
(ruang publik) sebagai arena belajar kolektif, pertukaran pikiran,
dan kreativitas budaya kian menyempit.
Ruang publik, yang diidamkan oleh Habermas, sebagai arena perbincangan
rasional, bebas dan sederajat tanpa terhambat oleh ketidaksetaraan
dalam kuasa uang, kian terpinggirkan oleh penetrasi kapital. Tanpa
ruang publik yang sehat, kota-kota besar di Indonesia tak bisa tumbuh
sebagai polis-polis berperadaban tinggi seperti Venice atau Paris.
Tetapi, ia berhenti sebagai 'hutan' beton yang menjadi situs yang
nyaman bagi perkembangbiakan apa yang disebut Al-Farabi sebagai
"kota Jahiliyah" (almudun al-jahiliyyah).
Cucu abad pencerahan
Ini gerak mundur dalam perkembangan peradaban kita. Kota-kota besar
(modern) seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan, semula tumbuh
sebagai cucu kandung dari spirit pencerahan di Eropa. Bersama konsolidasi
kekuasaan kolonial Belanda pada abad ke-19, ruang publik dan institusi
sosial gaya "pencerahan' mulai disemai di Nusantara. Sekolah
dasar ala Eropa, mulai didirikan di Weltevreden (Menteng), Jakarta
pada 1817. Pada tahun yang sama Kebun Raya di Buitenzorg (Bogor)
dan institut-institut yang terkait dengannya didirikan. Seiring
dengan itu, klub-klub social (societeit) tumbuh di beberapa
kota: Harmonie dan Concordia di Jakarta, De Vereeniging di Yogyakarta,
serta beberapa yang lainnya di Surabaya dan Bandung. Kelahiran dari
institusi-institusi ini bersamaan dengan munculnya media cetak,
jurnal-jurnal ilmiah Belanda (baik yang diterbitkan di Hindia maupun
yang diimpor dari Eropa), dan juga perpustakaan serta rumah penerbitan
dari klub-klub sosial tersebut.
Bentuk-bentuk sosiabilitas baru ini, beserta infrastruktur pengetahuan
dan ruang publik yang menyertainya, memungkinkan kota-kota merkantil
di Nusantara terekspos pada lalu lintas informasi, pengetahuan,
dan budaya global yang memberi dasar bagi pertumbuhan kota-kota
kosmopolitan berperadaban tinggi.
Pencapaian
kekayaan
tanpa meritokrasi,
melahirkan budaya korup,
kedangkalan apresiasi
budaya dan
anti-intelektualisme.
Kenanglah mutu pendidikan yang dihasilkan. Untuk tingkat sekolah
dasar saja (seperti ELS), murid telah diberi beberapa bahasa asing.
Untuk sekolah menengah (semacam HBS), kurikulumnya sangat ketat,
tak kalah hebat dari pendidikan Eropa, dengan tingkat kegagalan
yang tinggi bahkan untuk orang-orang Belanda sendiri. Toh dengan
mutu setinggi itu, putra Indonesia seperti Agus Salim mampu tampil
sebagai lulusan terbaik dari seluruh HBS yang ada; memberi bukti
bahwa jika mendapat wahana pembelajaran yang baik, manusia Indonesia
pun bisa berprestasi.
Kenanglah kualitas dan kuantitas penelitiannya. Dr Eijkman, pemenang
Hadiah Nobel bidang sains pada 1929, melakukan penelitiannya di
Indonesia, malah pernah memimpin Laboratorium Anatomi Patologis
dan Bakteriologi (berdiri 1886) di negeri ini. Jangan lupa, para
pemilik perkebunan berperan aktif dalam mempromosikan pusat-pusat
penelitian. Sebagai contoh, Observatorium Bosscha di Bandung (didirikan
oleh seorang pemilik perkebunan teh), Institut Penelitian Karet
di Bogor (oleh asosiasi perkebunan karet)
Hingga akhir 1930-an, setidaknya telah berdiri 26 institut penelitian
bereputasi tinggi. Ketika terjadi depresi ekonomi dunia pada 1930-an,
banyak ilmuwan terbaik Eropa dan Amerika Serikat yang hijrah ke
Indonesia, dan menemukan apa yang mereka sebut sebagai the scientific
paradise. Tidaklah mengherankan jika jurnal-jumal ilmu pengetahuan
yang terbit di Indonesia waktu itu sangat terkenal di seantero dunia,
terutama yang berkaitan dengan penelitian tanaman tropis. Bahkan
ketika Jepang masuk, sebuah perpustakaan di New York sengaja didirikan
untuk terus mengoleksi karya-karya ilmiah dari Indonesia.
'Respublica Litterarial'
Kenang pula inisiatif pemerintah untuk mendorong minat tulis dan
baca. Pendirian Balai Pustaka dengan proyek penerjemahannya pada
1917 memberi contoh hal itu. Apa pun agenda tersembunyi di balik
pendiriannya, keberadaan BP berperan penting dalam penyediaan bahan-bahan
bacaan yang murah bagi khalayak umum di Hindia.
Selain itu, BP juga berfungsi sebagai medan permagangan bagi para
literati 'Bumiputera' un tuk meniru tradisi kesusastraan Barat.
Proses peniruan ini membuka jalan bagi keterpautan literati Hindia
ke dalam semangat universal 'Respublica litteraria'.
Alhasil, seiring dengan pertumbuhan kaum borjuis di perkotaan,
tumbuh pula kantong-kantong kreativitas ilmu dan budaya. "Kelas
tinggi" menjadi penyangga dari "budaya tinggi". Tak
mengherankan jika kualitas peradaban kita menjadi ukuran kemajuan,
setidaknya untuk kawasan Asia Tenggara.
Bandingkanlah dengan Malaysia. Hingga awal abad ke-20, kota-kota
pantai di negeri ini lebih banyak dihuni oleh orang Eropa, China
dan pendatang lainnya. Karena infrastruktur pengetahuan terbaik
didirikan di kota-kota, bangsa Melayu jauh terbelakang dalam segi
pendidikannya. Kelak, kehendak untuk memajukan bangsa Melayu mendorong
pemerintahnya, untuk mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Indonesia
yang lebih maju dan lebih diterima karena kedekatan kulturalnya.
Tetapi, perkembangan kota-kota besar di Indonesia saat ini sungguh
melenceng dari bangun arsitektur awalnya. Ledakan orang-orang
kaya baru (kelas tinggi) di perkotaan tak diikuti oleh pertumbuhan
"budaya tinggi". Pencapaian kekayaan tanpa meritokrasi
melahirkan budaya korup, kedangkalan apresiasi budaya dan anti-intelektualisme.
Rapuhnya infrasruktur kognitif masyarakat membawa konsekuensi melemahnya
kapasitas diskursus kritis pada tingkat political society, bahkan
di lingkungan civil society. Jika gerak mundur ini terus
dibiarkan, trayek sejarah Indonesia akan terus bergerak secara tak
waras: mempertahankan yang buruk, membuang yang baik.
YUDI LATIF
Deputi Rektor Universitas Paramadina
Kompas, 13 Januari 2006
  
|