|

Anak Usia Prasekolah Sebaiknya Diarahkan pada
Pembentukan Sikap
PALANGKARAYA, KOMPAS
Mendiknas Bambang Sudibyo mengingatkan
bahwa anak pada usia dini tak pantas dibebani pelajaran membaca,
menulis, dan berhitung. Pada usia prasekolah, anak-anak hendaknya
justru lebih banyak diarahkan pada pembentukan sikap daripada dijejali
pengetahuan dan keterampilan.
"Oleh karena itu, sungguh tidak proporsional
jika sejumlah SD melakukan uji baca-tulis dan berhitung pada calon
murid. Jika itu terus terjadi, sama saja sekolah bersangkutan menghambat
layanan wajib belajar," kata Bambang di Palangkaraya, Jumat
(17/3), dalam Rapat Koordinasi Pembangunan bidang Pendidikan Provinsi
Kalimantan Tengah.
Rapat yang antara lain mengagendakan sinergi
rehabilitasi bangunan sekolah tersebut dibuka Gubernur Kalteng Agustin
Teras Narang, dihadiri bupati/wali kota se-Kalteng. Wacana utama
yang mewarnai rapat tersebut adalah sejauh mana meningkatkan angka
partisipasi sekolah pada semua jenjang, termasuk menggairahkan semangat
belajar pada diri peserta didik sejak usia dini.
Ditemui seusai acara, Mendiknas mengatakan,
adalah kekeliruan mendasar jika pengelola TK, SD, dan orangtua murid
terjebak paradigma intelegensi akademik semata dalam menakar tumbuh
kembang anak. Saat ini memang ada kecenderungan orangtua-terutama
ibu-ibu rumah tangga bangga jika melihat anaknya sudah bisa baca-tulis
dan berhitung pada usia prasekolah. Padahal, kata Mendiknas, selain
kecerdasan akademik masih banyak jenis kecerdasan lain yang mestinya
dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam diri anak pada usia prasekolah.
Prestasi seorang anak tak mesti terpaku pada kemampuan baca-tulis
dan berhitung, tetapi bisa juga dilihat pada aspek kemampuan bersosialisasi
dengan lingkungan sekitarnya serta mengendalikan emosi.
"Ironisnya, lembaga pengelola TK-SD
yang mestinya meluruskan paradigma tersebut malah ikut mengeksploitasi
kesalahkaprahan paradigma yang berkembang di masyarakat," katanya.
Sebetulnya, lanjut Bambang, yang utama adalah
bagaimana menumbuhkan pada anak perasaan senang berimajinasi, menggugat,
dan menggali hal-hal kecil di sekitarnya. Jika anak sudah memiliki
rasa senang untuk hal-hal seperti itu, maka ke depan akan tumbuh
rasa senang untuk belajar. Ini artinya terjadi penumbuhan minat
dan potensi akademik pada waktu yang dibutuhkan, yakni ketika tantangan
dan tuntutan makin besar.
Dalam kaitan dengan standar isi dan standar
kompetensi lulusan basil rumusan Badan Standar Nasional Pendidikan
yang dijadwalkan tertuang dalam peraturan menteri, akhir Maret ini,
menurut Mendiknas, kedua standar tersebut sudah memperhitungkan
pengurangan beban belajar pada jenjang SD, termasuk masa-masa transisi
di kelas I-III.
Dalam hal ini, pembelajaran di kelas awal
SD tak selamanya harus dalam bentuk formal di depan kelas, bisa
juga dengan bermain di halaman sekolah dan lingkungan yang sesuai.
(CAS/NAR).
Kompas, Sabtu 18 Maret 2006
  
|