Setia Hidayat, "Budaya Lokal Sering Dilecehkan"
BANDUNG, (PR).-
Pendidikan merupakan proses membudayakan manusia sehingga pendidikan
dan budaya tidak dapat dipisahkan. Demikian dikatakan Rektor Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Sunaryo, pada sarasehan dan
diskusi panel bertajuk "Strategi Pembangunan Jawa Barat Berbasis
Budaya dan Pendidikan Berkualitas untuk Pengentasan Kemiskinan"
di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Jalan Dr. Radjiman
No.6 Bandung, Rabu (11/1).
Menurut Sunaryo, gerakan budaya yang harus dikembangkan, antara
lain, jangan termakan budaya global, membudayakan belajar, dan
membudayakan baca-tulis. "Yang tidak kalah penting adalah
keteladanan dan budaya lisan (dialog)," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat,
Ir. Setia Hidayat. Jawa Barat, katanya, diakui kaya akan budaya
luhur, tetapi jarang digali oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
"Tidak match kalau orang Jawa Barat pakai basis budaya
orang lain," tandasnya. Selama ini, pendidikan yang diterapkan
di Indonesia masih memakai metode asing tanpa peduli dengan budaya
lokal. Menurut Setia Hidayat, ini yang membuat bangsa Indonesia
secara spiritual tidak kuat.
"Seharusnya, dengan metode yang berbasis budaya kita sendiri,
seperti silih asih, asah dan asuh, Jawa Barat
dapat meningkatkan IPM," tuturnya. Sekda berpendapat, banyak
orang yang tidak lagi mengenal budaya sendiri karena takut dianggap
primordialisme. Sehingga, lanjutnya, budaya lokal sering dilecehkan.
Sekda mengatakan, budaya lokal seharusnya digali untuk menyaring
budaya asing. Hal tersebut dibenarkan oleh Tjetje Hidayat Patmadinata.
Menurut Tjetje, "Seni dan sastra Sunda wajib diajarkan kepada
siswa." Lemahnya nilai budaya lokal membuat masyarakat
Indonesia menjadi orang lain. Padahal, suatu bangsa dapat maju
jika masyarakatnya menjunjung tinggi budaya lokal. Penyelesaian
masalah pendidikan di Indonesia, kata Tjetje, adalah dengan kembali
ke jati diri sendiri. "Setidaknya, pendidikan mengandung
unsur logika, etika dan estetika. Sayangnya, anak didik kita lebih
banyak menyerap logika, sedangkan etika dan estetika terabaikan,"
katanya.
Rendahnya mutu pendidikan juga diakuinya sebagai akibat sikap
bangsa yang masih 'menomorsekiankan' pendidikan. "Jadi beginilah
kualitas masyarakat kita," tuturnya. Selain itu, budaya banyak
diskusi, tetapi tanpa follow-up, juga membuat masalah semakin
berat.
Sementara, Dra. Hj. Popong Otje Djundjunan mengatakan, perempuan
memegang peranan penting dalam proses pendidikan. "Mendidik
satu pria sama dengan mendidik satu manusia, tapi mendidik satu
perempuan sama dengan mendirikan sekolah," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadang Dally
mengatakan, lambannya pemerataan pendidikan di Jawa Barat dipengaruhi
oleh faktor ekonomi, budaya, dan geografisnya. Ekonomi yang masih
lemah membuat anak-anak usia sekolah tidak sempat mengenyam pendidikan.
Upaya menyadarkan masyarakat bahwa pendidikan merupakan hal penting
juga masih belum berhasil. "Sekolah juga belum merata di
seluruh kecamatan, jadi masyarakat di pedesaan harus ke kota kalau
mau sekolah," kata Dadang. (A-155)***
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/13/0701.htm