Langit pagi
di Solo, Minggu (12/2), tampak cerah. Sejumlah gang kecil
di kampung batik Kauman riuh oleh hiruk-pikuk anak-anak yang
duduk lesehan di sepanjang jalan.
Mereka duduk
berkelompok mengelilingi sebuah wajan kecil yang berisi malam
(sejenis lilin) yang meleleh. Di tangan kiri mereka tersangga
kain mori berukuran 30 cm x 30 cm yang sudah berbingkai layaknya
kanvas, sementara tangan kanan memegang canting- untuk menorehkan
malam ke kain.
Tak biasanya
jalan selebar tiga meter di antara bangunan tua milik perajin
batik ini ramai. Meski atap dari bambu dan rumbia yang dipasang
tak mampu menahan panas matahari yang kian menyengat, sekitar
1.200 anak yang turut "berpetualang" dalam proses
membatik itu tetap bersemangat.
Di salah
satu sudut jalan, seorang bocah laki-laki tampak asyik menorehkan
malam. Sesekali ia mengambil malam cair dengan kepala canting,
meniupnya, dan dengan saksama mencoba menorehkan malam sesuai
pola yang dibuatnya dengan pensil.
Setelah pola
selesai dipenuhi malam, bocah bernama Ahmad Halim Al Kosasih
ini mengambil lidi yang ujungnya diberi kapas. Siswa kelas
V SD Muhammadiyah 2 Solo ini mencelupkan kapas ke zat pewarna
kain yang disediakan dalam gelas plastik dan mulai mewamai
kain mori dengan ragam warna cerah.
Senyum mengembang
di wajahnya saat kain mori miliknya sudah dipenuhi warna-warni
hasil karyanya. Sesekali ia memamerkannya kepada teman-temannya
yang duduk di sekitarnya. "Senang rasanya, saya jadi
tahu cara membuat batik” katanya.
Di kelompok
lainnya, tampak seorang perempuan perajin batik tengah membimbing
anak-anak perempuan menorehkan malam ke kain mori. Mereka
menorehkan ke atas motif bunga, kupu-kupu, burung, dan gambar
lain yang mereka buat.
Sementara
anak-anak membatik, para pengantar mereka ikut sibuk membantu.
Beberapa di antaranya turut menikmati saat mereka membatik.
Ya, itulah suasana workshop membatik bagi anak-anak yang terselenggara
atas inisiatif sejumlah pengusaha batik Kauman.
Koordinator
event organizer Mataya Production Heru
Prasetyo yang membantu penyelenggaraan acara mengatakan, kegiatan
diharapkan bisa mendekatkan anak-anak maupun orangtua mereka
kepada budaya hingga budaya ini bisa bertahan di masa yang
akan datang, Rochmad-Chusen (67) pemilik Batik Sekar Melati,
mengatakan, selama ini anak-anak terkelabui dengan batik yang
mereka kenakan. Padahal, yang mereka kenakan hanyalah busana
bermotif batik yang dicetak, bukan batik torehan malam ke
mori.
"Ide
ini bisa saja dilakukan di sekolah-sekolah. Saya punya angan-angan,
anak-anak bisa membuat busana batiknya sendiri dan pada hari
tertentu dikenakan ke sekolah. Anak diajar untuk bangga dengan
hasil karyanya sendiri, belajar berkreasi, dan tidak menjadi
bangsa yang konsumtif," kata Rochmad.
Pembelajaran
membatik sejak dini ini mendapat respons positif dari Wali
Kota Solo Joko Widodo. lnisiatif pengusaha untuk memberikan
pembelajaran membatik merupakan indikator positif bagi kelangsungan
tradisi batik tulis.
Tradisi ini
bisa dikemas sebagai aset untuk menarik wisatawan. Syukur-syukur
pembelajaran batik bisa menjadi muatan lokal sistem pendidikan
anak sekolah di Solo. (SON/EKIAVHY)
Kompas, 14
Februari 2006