|

Pendidikan, sekolah memang mahal, dan tidak
bisa murah
Masalahnya adalah seberapa besar beban pembiayaan
pendidikan yang dibebankan kepada peserta didik. Di banyak negara,
khususnya di negara yang pemerintahannya mengerti pentingnya pendidikan,
pemerintah menanggung sebagian besar beban anggaran penyelenggaraan
sekolah, sehingga beban yang ada di peserta didik bisa ringan
Bukan berarti pendidikan itu murah, tapi beban pembiayaan pendidikan
tidak sepenuhnya berada di tangan peserta didik.

Dalam sebuah bincang-bincang tentang pendidikan
dengan oom Mul (bpk. MM. Purbohadiwijoyo - yang juga seorang pendidik),
beliau mengajak saya untuk hitung-hitung besaran gaji guru saat
beliau sekolah di jaman belanda dulu. Guru beliau waktu SD adalah
seorang yang bergelar doktor di bidang fisika
bukan main-main.
Seorang pendidik sejati, ilmuwan yang mendedikasikan dirinya ke
pendidikan dasar
Mungkin ini suatu gambaran bahwa pendidikan
(dasar) adalah sebetulnya pekerjaan yang perlu ditangani luar biasa
serius.

Kembali ke soal hitung-hitungan tadi, ternyata
dulu gaji guru oom Mul tersebut kalau sekarang dirupiahkan adalah
setara dengan tujuh juta rupiah
Angka yang fantastis
sebuah impian dalam realita penyelenggaraan pendidikan di Indonesia
saat ini. Tapi itulah gambaran sederhana bahwa sebetulnya pendidikan
yang baik itu tidak bisa murah. Dan saya kira hal ini sekarang berlaku
di mana-mana
tidak bisa kita mendapatkan sesuatu yang baik
dengan harga yang murah
Sekarang ini, saat saya mencoba berhitung
secara ideal untuk pembiayaan sebuah sekolah, dimana satu kelas
yang diselenggarakan menampung 25 orang anak dan ditangani oleh
2 orang guru, dimana guru dikompensasi secara cukup baik dalam perhitungan
biaya hidup saat ini, ditambah penyediaan fasilitas pembelajaran
yang baik (seperti halnya buku-buku perpustakaan, alat-alat bantu
pembelajaran, alat peraga yang memadai, mungkin ditambah fasilitas
audio visual dan penyelenggaraan outing secara berkala) maka ditambah
lagi dengan pengembangan sekolah tersebut, adalah tidak mungkin
kita bicara sekolah murah.

Dalam sudut pandang guru, guru yang ideal
kita harapkan mampu memfasilitasi proses pembelajaran anak semaksimal
mungkin. Maka harus disadari bahwa kita menuntut banyak dari guru
tersebut dalam hal kemampuan dan proses pengembangan dirinya, belum
lagi masalah dedikasi dan profesionalismenya sebagai guru. Seorang
guru tidak bisa tidak harus mendedikasikan waktu dan komitmennya
secara penuh dalam proses mempersiapkan diri dan selama mendampingi
anak belajar. Tapi realita yang sekarang umumnya terjadi adalah
karena tidak memadainya penghasilan guru, pada umumnya mereka mencari
tambahan penghasilan dari les-les privat atau dari 'obyekan' lainnya.
Ini seharusnya tidak boleh terjadi kalau memang kita ingin performa
guru di kelas sehari-hari maksimal adanya. Sederhananya, kita tidak
mungkin menuntut banyak kepada para guru kalau kita sendiri tidak
bisa memberikan penghargaan yang memadai kepada para guru, (termasuk
untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka sendiri secara baik).
Kita tidak mungkin menuntut profesionalisme, saat kita tidak bisa
atau tidak mau menghargai jasa para guru secara profesional.

Karena faktor rendahnya penghargaan terhadap
profesi guru, entah sudah berapa lama profesi guru menjadi profesi
yang sangat tidak bergengsi di masyarakat kita. Hampir tidak ada
'orang-orang berkualitas' yang memilih mengambil profesi guru atau
pendidik. Mereka lebih suka jadi insinyur atau dokter atau ekonom.
Kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang ini mayoritas guru
adalah mereka-mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk masuk
ke pendidikan tinggi, atau tidak punya alternatif profesi lain sehingga
terpaksa menjadi guru. Dengan tidak memperhitungkan buruknya kualitas
pendidikan guru di Indonesia, kita punya para guru yang kebanyakan
tidak punya jiwa dan dedikasi sebagai pendidik, mereka yang terpaksa
menjadi guru. Ditambah rendahnya gaji guru, semua itu berakumulasi
dan berakibat rendahnya mutu dunia persekolahan kita.

Yang diuraikan di atas tadi adalah persoalan
klasik dunia persekolahan di Indonesia. Terus berulang di setiap
generasi, dimana kita selalu saja mendengar ungkapan 'Sekolah itu
Mahal'. Tapi saya kira seharusnya hal ini tidak akan banyak dipersoalkan
kalau memang dunia persekolahan kita berperan dengan baik dan menjalankan
fungsinya sebagaimana mestinya; kalau dunia persekolahan kita berhasil
menggali prestasi yang sejati dari para peserta didik. Tetapi hal
ini-lah yang justru tidak terjadi. Dan ini adalah masalah pertama.
Sekolah kita terlepas dari mahal ataupun murahnya, ternyata belum
berhasil berfungsi dengan baik. Yang ada hanyalah filosofi pendidikan
yang tidak jelas, arah dan kerangka kurikulum yang tidak menentu,
program pembelajaran di sekolah yang semakin menekan anak dan lain
sebagainya. Untuk melengkapi kegiatan persekolahan anak, orang tua
khususnya di kota-kota besar, harus melengkapi anak dengan berbagai
les-les tambahan atau yang parah bahkan membawa anak berkonsultasi
ke psikolog karena ketertekanan anak di sekolah. Pendidikan secara
tidak langsung akhirnya memang menjadi mahal.
Format Persekolahan Baru
Yang parah, sebelum kita sempat mencari solusi dari isu sekolah
mahal tadi, situasi permasalahan justru diperrumit dengan hadirnya
format-format baru di dunia persekolahan kita. Sekolah-sekolah baru
bermunculan dengan istilah dan kemasan serba mutakhir. Sekolah yang
disebut-sebut dengan 'sekolah plus' atau 'sekolah nasional' ataupun
lainnya, yang menawarkan pendekatan baru kegiatan persekolahan seperti
full-day school ataupun sekolah bilingual dan lain sebagainya
Disamping itu, bermunculan pula sekolah-sekolah waralaba yang datang
dari luar Indonesia. Sekolah-sekolah yang dijual dengan merek dagang
impor dan segala atribut yang mengikutinya. Sekolah-sekolah ini
sejak dilaunch, ditampilkan serba gemerlap dengan fasilitas serba
wah, dengan program-program yang tampaknya luar biasa canggih
Kesemuanya dikemas dalam tampilan promosi dan 'advertising' yang
mempesona seperti layaknya komoditi konsumsi lainnya.

Sementara persoalan dunia persekolahan 'tradisional'
belum bisa dipecahkan, tanpa sadar masyarakat khususnya di kota-kota
besar digiring ke persepsi bahwa munculnya format sekolah-sekolah
baru ini adalah solusi dari persoalan dunia persekolahan di Indonesia.
Dan karena format-format persekolahan baru ini hampir selalu dibarengi
dengan biaya pendidikan yang mahal, bahkan sangat mahal untuk ukuran
kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat Indonesia, maka ungkapan
'Sekolah itu Mahal' sepertinya semakin terjustifikasi.

Akhirnya masyarakat seperti dihadapkan pada
dua pilihan yang sulit. Kalau mau sekolah yang baik, ya bayarlah
malah, ekstra mahal. Dan kalau tidak mampu, ya terimalah sekolah
apa adanya, 'sekolah yang biasa' beserta persoalan-persoalan yang
mengiringinya selama ini.
Sekolah-sekolah baru ini tidak banyak disadari
pada awalnya dikembangkan oleh para pebisnis, yang hampir pasti
dilatar-belakangi motivasi bisnis. Apakah betul membawa misi pendidikan
atau diarahkan sebagai solusi atas permasalahan dunia persekolahan
adalah tanda tanya besar. Rasanya sah juga berpikir bahwa munculnya
sekolah-sekolah tadi adalah terutama atas motivasi menghasilkan
untuk semata.
Bisnis Pendidikan?
Mencermati sekolah-sekolah baru tadi, muncul satu isu baru mengenai
'bisnis pendidikan'. Istilah ini semakin marak akhir-akhir ini.
Tapi kalau kita mencoba kritis, hal ini adalah sesuatu yang sebetulnya
menyesatkan. Pendidikan dalam arti sesungguhnya tidak mungkin diselenggarakan
atas motivasi bisnis. Karena bisnis dalam pengertian kegiatan usaha
selalu berorientasi pada keuntungan yang akan diperoleh pemilik
modal atau pemegang saham. Jadi kalau seseorang atau sekelompok
orang merintis kegiatan pendidikan untuk memperoleh keuntungan,
misi dan selanjutnya kualitas pendidikan boleh sangat dipertanyakan.
Karena apapun kemasannya, bisnis selalu berorientasi pada akumulasi
keuntungan. Apapun yang dilakukan lembaga ini akan selalu berdasarkan
pertimbangan keuntungan. Keuntungan adalah motif utamanya. Sekolah-sekolah
ini berdiri di atas landasan kapitalisme.

Di sisi lain, pendidikan yang kita kenal
sejak dahulu (sekolah tradisional) adalah gerakan pelayanan. Terlepas
dari baik-buruknya kualitas persekolahan kita, dunia persekolahan
kita sejak dulu membawa semangat pelayanan, apakah itu yang diselenggarakan
pemerintah maupun swasta.
Akhirnya sekarang, dunia persekolahan tradisional
mau tidak mau berhadapan dengan sekolah-sekolah baru yang berorientasi
bisnis, dimana kompetisi adalah salah satu kata kunci yang dipegang
erat didalamnya. Dan menjadi sangat mengkuatirkan kalau semangat
pelayanan mulai sekolah-sekolah kita yang tradisional mulai bergeser
ke hal-hal yang berbau bisnis terutama untuk ikut serta dalam arus
kompetisi yang semakin intens ini. Sebagai penyedia jasa, memang
sekolah-sekolah sangat tergantung pada cara pikir dan perilaku konsumennya.
Dan saat ini kelihatannya mulai menjadi sulit bagi sekolah-sekolah
tradisional untuk mendapatkan murid saat sekolah-sekolah modern
ini sangat fasih memikat masyarakat untuk beralih mengkonsumsi produk-produk
mereka (apalagi kita tahu masyarakat kita sifat konsumerismenya
semakin lama semakin tinggi).

Penyelenggaraan sekolah, dalam bentuk apapun
harus dikelola (dimanage) dengan baik dan harus menghasilkan
dana. Dana itu digunakan untuk menutup biaya operasional sekolah
(termasuk menggaji dengan layak pengelola dan guru juga menyediakan
fasilitas pembelajaran yang baik) dan mempertahankan kesinambungan
penyelenggaraan sekolah tersebut. Dititik ini penting disadari bahwa
perbedaan sekolah-sekolah tradisional dengan sekolah-sekolah modern
adalah dalam hal pengelolaan dana. Sekolah yang bergerak dalam pelayanan
pendidikan (seharusnya) memanfaatkan sisa dana untuk pengembangan
lanjut program-program pendidikan lainnya. Dana yang terakumulasi
kembali dituangkan kembali untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan
lainnya.

Bisnis pendidikan, sebaliknya akan membagikan
sisa dana kepada pemilik modal atau pemegang saham. Karena bagaimanapun
itu adalah tujuan akhirnya. Saat pelayanan pendidikan seharusnya
tidak dibatasi dalam kerangka pengembalian investasi, pemilik modal
akan berada dalam frame pengembalian investasi (ROI - Return
of Investment) sebagaimana halnya bidang usaha lainnya. Bisnis
pendidikan sedikit banyak akan mengorbankan banyak hal yang mengurangi
keuntungan. Sedangkan pelayanan pendidikan seharusnya memfokuskan
pengelolaan dana untuk kepentingan pelayanan dan tidak terpaku dalam
kerangka waktu atau pola-pola pengembalian investasi
Pendidikan
yang sesungguhnya tidak mungkin digabungkan dengan bisnis, karena
bagaimanapun spiritnya berseberangan.
Lalu Bagaimana?
Masih jauh jalan kita mengatasi persoalan dunia persekolahan,
yang semakin kisruh dengan perkembangan akhir-akhir ini. Satu-satunya
cara mengatasi rumitnya persoalan dunia persekolahan kita saat ini
adalah dengan membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat. Dan
atas pemahaman tersebut masyarakat akan menjadi kritis dan mampu
menentukan pilihannya sendiri. Yang harus melakukannya adalah sekolah-sekolah
tradisional ini sendiri. Karena merekalah yang seharusnya faham
tentang esensi dunia pendidikan.

Dan dalam situasi ini, sekolah-sekolah tradisionallah
yang sedang dalam posisi terancam dan nyaris terseret arus 'bisnis
pendidikan' yang menyesatkan masyarakat. Sekolah-sekolah tradisional
harus mampu dalam segala keterbatasannya membuktikan semangat pelayanannya
dan tidak terseret arus kompetisi bisnis yang akhirnya mengorbankan
peserta didik. Tentunya untuk menyikapi situasi ini, sekolah-sekolah
tradisional harus belajar lagi supaya mampu berkompetisi dengan
cara tidak langsung dan tetap memperjuangkan spirit pelayanan dan
esensi pendidikan yang sesungguhnya.
Andy Sutioso
|