NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS : Belajar itu bukan untuk sekolah tapi untuk kehidupan. Entah siapa yang membuat pernyataan itu, tapi saya sepenuhnya setuju dengan itu. Dengan demikian, belajar harus sangat berkaitan dengan bagaimana kita hidup. Kapan, dimana dan hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana kita hidup. Ini adalah salah satu bagian dari apa yang disebut dengan 'Life Skill Education', Istilah yang baru akhir-akhir ini saja banyak disebut-sebut. Tapi seperti apa dan bagaimana penerapannya belum banyak dimengerti para penyelenggara pendidikan.

Walaupun begitu, pengalaman anak saya (kelas 2 SD) di sekolahnya menunjukkan bahwa para guru telah berusaha menerapkan hal ini. Sekolah ini memang sedang berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran yang baru, walaupun tingkat keberhasilannya masih sangat beragam dari kelas ke kelas. Pengelola dan para guru harus belajar lagi dari awal untuk pola pembelajaran yang baru yang diistilahkan pembelajaran atraktif dan terpadu.

Anak anak kelas 2 mengalami hal ini setelah peristiwa bom di kedutaaan besar Australia di Kuningan, Jakarta. Segera setelah terjadinya peristiwa itu, guru-guru kelas 2 merubah materi pembelajaran di kelas untuk merespon situasi yang terjadi di Jakarta tersebut. Apa yang terjadi? Guru-guru membawa potongan berita di koran dan menjadikannya materi pembelajaran di dalam kelas. Matematika, bahasa, PPKN, agama. Para murid di ajak mendalami apa yang terjadi dan memusatkan perhatian mereka pada peristiwa yang mengguncang masyarakat Jakarta, Indonesia bahkan seluruh dunia.

Para guru membuat soal matematika dari peristiwa itu, mengajak anak berhitung jumlah kaca yang pecah, mobil yang rusak dan lain sebagainya…. Anak diajak mengarang dan membuat doa, mendoakan korban dan berdiskusi tentang peristiwa itu. Sampai seorang anak bisa membuat pernyataan bahwa "Ya pelakunya dimaafin sih, tapi harus tetap dipenjara"

Sebelumnya ini tidak pernah terjadi. Selama ini, seperti apa yang kita masing-masing alami, sekolah kita tidak pernah mengalihkan pandangan terhadap apa yang terjadi di luar kelas, di luar sekolah, di luar buku pelajaran. Apapun peristiwa di luar belajar jalan terus seperti biasa. Apa yang terjadi, murid tidak pernah belajar untuk sadar dan peka di luar kelas, di luar sekolah. Dan ini terjadi pada sekian banyak anak, selama bertahun-tahun sejak mulai duduk di bangku sekolah hingga apa di pendidikan tinggi. Sampai sekarang-pun, pendidikan tinggi kita hampir tidak pernah menaruh peduli terhadap permasalahan-permasalah aktual di luar kampus. Apa yang terjadi, sekolah, dunia pendidikan tinggi meluluskan orang-orang, sarjana yang tidak peka terhadap apa yang terjadi di luar kelas, di luar sekolah, di luar kampus. Pandangan, pemikiran mereka selama di sekolah dan di kampus hanya ditujukan pada buku-buku dan materi pelajaran, tidak pada permasalahan nyata di dunia nyata. Akhirnya saat mereka masuk dunia nyata, mereka tidak mengerti bagaimana caranya merespon permasalahan yang ada.

Di sini kita melihat contoh nyata, bagaimana anak-anak seusia kelas 2 SD sebetulnya sudah mampu merespon peristiwa yang secara sosial politik cukup rumit. Bisa dibayangkan bagaimana kemampuan mereka apabila hal ini terus menerus dilakukan selama mereka menempuh pendidikan formal secara konsisten. Kita bisa berharap melihat orang-orang muda yang matang secara nalar, secara sosial dan emosi, mereka yang paham bagaimana menyikapi situasi yang terjadi di masyarakat.

Walaupun murid-murid adalah subjek yang menjalani proses ini, kita harus angkat topi untuk para guru yang berusaha memfasilitasi proses ini. Merubah program yang telah direncanakan sebelumnya bukan hal yang mudah. Tapi para guru kelas 2 telah melakukannya, membuat pembelajaran menjadi sesuatu yang kontekstual, punya makna dalam sebuah kerangka tempat, waktu dan situasi yang nyata.

Saya kira hari itu anak-anak kelas 2 memperoleh proses belajar yang jauh lebih bermakna daripada ratusan soal matematika atau bahasa, atau soal hafalan dari buku paket. Mereka telah belajar hidup dalam situasi nyata di masyarakat. Ini adalah contoh nyata tentang penerapan 'Life Skill Education'. Untuk menjalankan hal ini dari hari ke hari dibutuhkan guru yang juga peka terhadap situasi di masyarakat, dan membawakan situasi ini ke dalam kelas. Dan ini bukan sesuatu yang mudah. Tapi kalau dari guru ke guru, dari sekolah ke sekolah pola pembelajaran ini bisa terjadi, memang bisa jadi anak-anak kitalah yang menemukan solusi persoalan-persoalan yang sekarang ada di masyarakat. Semoga.


Andy Sutioso