|

Anne Nurfarina | Juli 1999
Orisa
baru saja hidup, ditengah kembang kempis menghirup udara, paru-parunya
belum bekerja dengan sempurna. Kadang-kadang dia menahan nafasnya
karena udara terasa kotor, kemudian bernafas lega karena hawa manisnya.
Orisa baru saja hidup. Matanya belum terbuka dengan sempurna. Dicobanya
untuk membelalak, tapi malaikat pendamping segera melarang.. Pemandangan
sedang tidak bagus, gelap dan berkabut. Titik-titiknya bukan embun...tetapi
pasir yang memedihkan. Malaikat hanya menyuruhnya memicingkan mata
saja dan bersabar karena hanya sebentar saja kabut pasir itu lewat.
Orisa ingin menghalau pasir itu, dan ketika dia menemukan kedua
tangannya dia berteriak gembira. Inginnya segera bertepuk tangan,
tapi yang terdengar bukan tepukan....karena jarinya masih terkepal.
Oriza
meronta gemas, dirasakan ketidak berdayaannya. Malaikat segera menenangkan,
dikelitiknya kaki bayi merah itu, Orisa terkekeh, tawanya renyah,
murni dan sangat manis. Seketika Orisa kaget, pada suara dan sepasang
kakinya. Semakin kuat saja keinginannya untuk segera meraih kesempurnaan.
Malaikat kembali menenangkan.
"Lantas apa yang paling bisa saya manfaatkan untuk saat ini?"
Orisa bertanya.
"Nuranimu nak"
"Apa itu nurani ?"
"Yang terbaik untuk yang paling baik, yang benar untuk yang
paling benar, semua ada dalam hati, dan saat ini engkaulah pemilik
yang paling murni dan paling benar".
"Bagaimana saya mengetahuinya?"
"Tidurlah dan engkau akan segera mengetahuinya."
Bayi Orisa terpejam, dahinya sedikit mengernyit karena rasa keingintahuan.
Tubuhnya terkulai terselimuti rasa nyaman sedangkan sukmanya ada
dipangkuan sang malaikat. Terbang tinggi untuk menyaksikan dunia
dari kacamata gaib.
"Apa yang aku lihat?" Tanya Orisa dan mulai mencatat.
"Labirin, kotak kehidupan. Yang tengah berdesakan itu manusia-manusia
sepertimu".
"Mengapa mereka berdesakan?"
"Karena mereka pikir jalan itu jalan utama untuk kehidupan
abadi".
"Adakah kehidupan abadi itu?"
"Tidak, mereka tertipu oleh pikirannya sendiri. Sekarang janganlah
terlalu banyak bertanya. Pakai mata nuranimu engkau akan mengetahui
maknanya".
"Baiklah" Bayi Orisa menurut, kemudian diperhatikannya
manusia-manusia dalam kotak labirin itu.
Yang pertama menyentuhnya adalah pemandangan wanita-wanita dengan
bayi dalam gendongan mereka. Kaki-kaki para ibu itu berjalan paling
perlahan dan berirama. Penuh dengan senandung dan menggemakan kenyamanan
di telinga mereka sendiri. Kelelahan mereka adalah kasur empuk,
kesakitan mereka adalah pijatan malaikat, air mata mereka adalah
mutiara. Raga Orisa tersenyum dalam tidurnya, dia melihat para ibu
itu tetap sehat walau dalam kesakitan dan tetap gemerlap di tengah
kelayuan.
Kacamata nurani Orisa berpindah pada hiruk pikuk manusia lelaki
dan perempuan yang tengah berebut memenangkan diri, menyangka akan
ada keabadian. Berebut mengganduli diri dengan harta yang mereka
peroleh, kaki-kaki mereka semakin terperosok pada kedalaman rawa
fatamorgana. Darah bahagia mereka terhisap dan semakin kering. Orisa
meringis dan hampir menangis, teta pi malaikat segera menepuk dan
menunjuk pada satu kelompok lain, kelompok yang tidak terlalu padat
dan nyaris beraturan. Lelaki dan perempuan yang sedang berbagi nasi,
ketika lapar mereka menelan nasi secukupnya, dan ketika haus diminumnya
beberapa tetes air. Langkah-langkah manusia itu ringan karena gandulan
harta mereka tidak berlebihan. Bila saatnya berlebih mereka akan
membagikannya pada yang masih kurang. Sehingga mereka selalu ada
pada keseimbangan. Bayi Orisa bernafas lega, dipanjatkannya do'a
syukur.
Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk yang lebih heba t. Ada satu
jalan dalam labirin itu yang semua dindingnya adalah cermin. Orisa
tertarik dan segera memperhatikannya. Manusia-manusia lelaki dan
perempuan menyusuri jalan kehidupan dengan penuh polah amarah. Ada
yang sedang menghina, membentak, memaki dan menghujat, padahal yang
mereka hina, mereka bentak, mereka maki dan mereka hujat....adalah
bayangan diri mereka sendiri pada cermin. Mereka meludah dan ludah
itu menciprat pada muka mereka sendiri. Orisa terkekeh kegelian,
tetapi segera saja tawanya terhenti oleh suara tangisan.
"Siapa yang menangis itu malaikat?"
"Mari kita lihat lebih dekat"
Ternyata sekelompok manusia berpasang-pasangan, yaitu yang teraniaya
dan si penganiaya. Tetapi yang menangis justru si penganiaya, dalam
cermin dia tengah menusukan belati pada dirinya sendiri. Mencabik-cabik
hati dan perasaannya. Menyiksa diri dengan peperangan bathinnya.
Masih dalam cermin itu, yang teraniaya memandang dengan rasa miris
dan penuh rasa kasihan. Sipenganiaya sedang menembaki dirinya sendiri,
kesakitan korban yang dia harapkan justru ada di dalam dadanya.
Semakin hebat kesakitan yang dia inginkan, semakin hebat pula akan
dia rasakan. Sementara itu si teraniaya hanya menerima taburan bunga,
wewangian surga dan merdunya do'a. Air mata Orisa berlinangan, pemandangan
ini sungguh menyakitkan.
"Inikah duniaku malaikat?"
"Ya.."Jawab malaikat prihatin.
"Akan hancurkah pada masaku nanti?"
"Ya dan tidak"
"Apa maksudnya?"
Malaikat menunjuk pada bagian lain. Sekelompok manusia beraneka
warna, berkulit kuning, coklat dan legam.Masing-masing kelompok
membangun benteng dengan segala daya dan kesusahannya. Tetapi ketika
pekerjaan selesai, mereka saling menghancurkan, disertai kegeraman
dan rasa paling benar. Benteng yang telah dibangun rubuh dan sia-sia.
Kelompok lain ada didekatnya, manusia-manusia berkulit kuning, coklat
dan hitam, bersama-sama membangun benteng tanpa tepi, semakin tinggi
dan tinggi. Taufan menghajarnya, tetapi benteng itu tetap utuh,
mereka malah membangun benteng itu agar lebih tinggi lagi. Membangun
kekuatan, dalam harmoni dan keselarasan.
Orisa merenungkannya.
"Mengertilah, keabadian itu adalah kedamaian hati nan luar
biasa. Dan kedamaian itu adalah karena manusia punya akal dan ketulusan
nurani. Andai manusia selalu mau mempergunakannya..."
"Apa yang akan terjadi?"
"Damai dimuka bumi"
"Damai di muka bumi...!" Orisa menirukan dan mencatatnya
dalam hati.
"Semoga engkau tidak melupakannya nak..!" Malaikat berbisik
seraya membimbing mulut Orisa ke puting susu ibunya.
Bandung, 29 Juli 1999
Untuk anakku terkasih
Oriza sativa Devi
Selamat Ulang Tahun


|