|
Pendidikan Kesetaraan
Wienny Siska Rahmawati | Desember
2005
Ilustrasi 1
"Hey
ayo jangan nangis, laki-laki kok cengeng! Jadi laki-laki
itu mesti kuat, jatuh sedikit sudah nangis! Nggak bagus kelihatannya
anak laki-laki mengeluarkan air mata."
Ilustrasi 2
"Ayu
anak perempuan itu mestinya manis, kalem, kamu ini,
perempuan kok main layangan, naik-naik ke genteng, mau jadi laki-laki
ya? Anak perempuan itu mendingan main boneka-bonekaan, masak-masakan.
Lihat tuh, kulit kamu jadi hitam, kan nggak bagus kelihatannya!"

Apa yang terlintas dalam benak Anda dengan
ilustrasi di atas. Sebagian dari Anda mungkin menganggap itu satu
hal yang lumrah terjadi dan seringkali Anda lihat atau malah terjadi
pada diri Anda sendiri atau bisa jadi Anda tergelitik dengan hal
itu?
Perbedaan peran laki-laki dan perempuan memang
sudah tidak dapat kita pungkiri lagi memang ada di sekitar kita.
Banyak orang menganggap hal itu hal biasa dan menjadi satu hal yang
lumrah terjadi dan memang semestinya seperti itu. Namun, pernahkah
terpikir bahwa perbedaan peran itu punya dampak yang besar pada
kehidupan kita? Dan haruskah ini dibiarkan beranak-pinak dalam kepala
kita dan pada akhirnya sampai pada anak-anak kita?

Ilustrasi di atas jadi contoh sederhana yang
bisa kita cermati. Anak laki-laki seringkali dibangun dalam budaya
yang membuat mereka diharuskan menjadi sosok yang kuat, mandiri
dan bisa menyembunyikan perasaan mereka, sedangkan seorang perempuan
harus menjadi sosok yang lembut, santun, malah dalam kata lain menjadi
pribadi yang lemah. Hal ini mungkin terjadi tanpa kita sadari, karena
budaya ini telah mendarah daging sejak dulu dan kita pun dididik
dengan budaya yang sama, jadi wajar saja bila kita melakukan imitasi
budaya. Malah muncul anggapan bahwa fungsi belahan otak dikaitkan
dengan stereotip laki-laki dan perempuan yang bersumber dari trait
theory mindset, yang mengungkapkan laki-laki berpikir logis,
agresif, rasional, strategis, kompetitif dan pembuat keputusan,
sedangkan perempuan lebih berpikir intuitif, emosional, spontan,
submisif dan kooperatif. Seolah-olah laki-laki memiliki dominasi
pada belahan otak sebelah kiri dan belahan kanan didominasi oleh
perempuan (Jurnal Perempuan #23, 2002).

Budaya patriakal-dominasi laki-laki-memang
tidak mudah dihilangkan. Laki-laki dan perempuan memang berbeda,
tapi tidak perlu dibeda-bedakan. Kalau kita menyadari ada banyak
hal yang membuat kita terjebak dalam budaya patriarki, contoh sederhana
saja, bayi laki-laki biasa dipakaikan sesuatu yang bernuansa biru
dan bayi perempuan dipakaikan sesuatu yang bernuansa pink. Apabila
kita melihat laki-laki memakai baju pink atau ada laki-laki
senang dengan warna pink itu akan menjadi satu hal yang aneh dan
dianggap tidak wajar karena warna pink itu dianggap milik perempuan.
Apakah sebuah warna bisa berjenis kelamin?
Lalu, ada beberapa hal lagi yang sering kita
lakukan namun lepas dari kesadaran kita. Kita membedakan pekerjaan
laki-laki dan perempuan. Masih ingat pelajaran bahasa Indonesia
saat kita SD?
Budi bermain di halaman dan Wati membantu
ibu di dapur.
Ibu membeli sayur ke pasar dan Ayah
pergi ke kantor.

Penggalan kalimat itu rasanya sudah melekat
dalam kepala kita dan itu dijadikan 'referensi' bahwa di situlah
perempuan harus di tempatkan. Perempuan berada di ruang domestik
dan laki-laki di ruang publik. Semua ini kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hati. Anak-anak perempuan kita diajak membantu kita di dapur
sedangkan anak laki-laki sibuk bermain. Anak laki-laki dibelikan
mobil-mobilan, senjata-senjataan, sedangkan perempuan dibelikan
alat masak-masakan dan boneka. Bila ada anak perempuan atau laki-laki
menginginkan hal yang sebaliknya, yang terlontar dari mulut kita,
"Itukan mainan anak laki-laki!" atau "Itukan mainan
buat anak perempuan!" lagi-lagi, dalam hal mainan pun harus
berjenis kelamin. Inilah yang akan coba kita bongkar. Cara pandang
yang sebenarnya tidak tepat kita terapkan. Pola pikir yang membuat
perempuan makin terpinggirkan, yang membuat perempuan sulit menunjukan
eksistensinya dan sosok laki-laki yang harus berusaha sekuat tenaga
menjadi seorang 'Superman'.

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan membuat
satu dampak yang sangat signifikan. Perempuan seringkali menjadi
orang kedua dalam hal-hal tertentu, begitupun dalam pendidikan.
Kebiasaan-kebiasaan yang dianggap satu hal yang wajar terus diturunkan
terus menerus dan membuatnya makin sulit diurai. Lalu, kenapa kita
tidak mencoba menyikapi hal ini dengan tindakan yang lebih nyata,
mengubah cara pandang yang tidak tepat, mengajarkan pada anak-anak
kita untuk lebih saling menghargai, menyikapi perbedaan dengan sudut
pandang yang lain.

Sekolah merupakan lingkungan yang tepat mengembangkan
hal ini, meskipun titik tolak utama dari pembelajaran kesetaraan
ini seharusnya dimulai dari lingkungan keluarga. Namun, lingkungan
sekolah bisa jadi pemicu, karena bisa jadi kita sebagai orangtua
telah lama menganut budaya patriakal dalam kepala kita jadi tak
salah kiranya bila institusi sekolah yang menyalurkan point
of view dari sebuah perubahan.

Pendidikan kesetaraan. Pendidikan di mana
kita menempatkan laki-laki dan perempuan pada tempatnya, menempatkannya
sebagai manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Lingkungan
yang bebas dari batas jenis kelamin. Namun, apakah kita mampu? Itu
yang menjadi pertanyaan besar buat kita. Selama kesadaran akan kesetaraan
itu tak ada akan menjadi sulit mengembangkannya dalam dunia nyata.
Dunia yang setara, di mana laki-laki dan perempuan saling berdampingan,
setara tanpa saling menguasai hanya akan jadi sesuatu yang utopis.
Marilah kita mulai mendidik diri kita dalam pendidikan kesataraan.
Sekali dalam hidup orang mesti menentukan
sikap,
kalau tidak, dia takkan jadi apa-apa.
(Toer, 1999:87)

|