|

disusun oleh : Andy Sutioso untuk
Pertemuan Orang Tua Semi
Palar, 25 Februari 2006
Pengantar
Baca Tulis dalam proses pendidikan anak-anak
memang jadi sesuatu yang sangat kita soroti. Memang, baca tulis
adalah satu titik patokan yang paling kita tunggu-tunggu, sebagai
satu milestone yang menggambarkan tercapainya titik keberhasilan
anak-anak kita. Sama halnya seperti saat anak mulai bicara atau
anak mulai berjalan. Satu tahapan perkembangan yang sangat kasat
mata dan setelah itu dilewati, rasanya itu membuat kita tenang.
Bedanya, waktu anak-anak kita masih bayi,
kita punya kesabaran, memberikan banyak waktu, kesempatan dan juga
rangsangan untuk anak-anak kita mengucap kata pertamanya atau saat
mengangkat kaki dan memijakkan langkah pertamanya. Kita membiarkan
proses tersebut berjalan alamiah.
Saat anak-anak kita belajar baca tulis, tanpa
disadari sikap kita mulai berubah, apalagi saat mereka ada di lingkungan
sekolah yang mulai kompetitif. Dimana saat anak lain mulai lancar
membaca dan menulis, kita lalu mulai menjadi panik. Semakin demikian
saat guru mulai menggoreskan angka dan nilai ke lembar kerja anak-anak.
Di tengah teman-temannya, orang tua mulai memperbandingkan dan merasakan
anak-anak kita lebih lambat daripada teman-temannya. Guru, karena
dikejar target mulai menyampaikan, "Bu, Pak, anak ibu perlu
dibantu baca tulisnya karena lebih lambat daripada teman-temannya,
sebaiknya dicarikan guru les". Pada saat itu kita mulai
merasa anak kita inferior dibandingkan anak-anak lain. Dan bisa
jadi kitapun sebagai orang tua mulai memberikan 'tekanan-tekanan'
kepada anak kita untuk mulai mengejar ketinggalannya.
Kalau kita cermati baik-baik, ada yang bergeser
di sini. Dalam situasi ini semua langkah untuk anak-anak kita belajar
baca tulis sekarang seakan sepenuhnya diinisiasi oleh orang dewasa,
terlepas dari minat dan keingin-tahuan anak.
Guru mengajar anak baca tulis karena target-targetnya
dan orang tua karena ketakutannya, atau (lebih gawat lagi) oleh
ambisinya. Karena dalam situasi demikian, orang tua akan merasa
sangat bangga, saat anaknya mulai bisa menulis paling awal, paling
cepat atau paling rapi dan lain sebagainya. Sebaliknya orang tua
merasa malu (kalaupun tidak, merasa khawatir) saat anaknya lebih
lambat dibandingkan teman-temannya. Kalau dulu proses dia melangkah
dan mengucap kata adalah lebih alamiah atas kemampuan dia, sekarang
di sekolah anak belajar baca tulis dalam target dan tuntutan orang
dewasa.
Apa dan Bagaimana Baca Tulis bagi Anak
Khususnya untuk baca tulis, beberapa hal
yang harus menjadi perhatian kita semua adalah :
- Baca Tulis adalah sesuatu yang sangat
kompleks dan sulit bagi anak.
Kalau kita memposisikan diri sebagai anak usia 4-5 tahun,
kira-kira apa yang ada di benak anak melihat runtutan bentuk-bentuk
aneh, simbol-simbol berderet dari kiri ke kanan, berbaris-baris
dari atas ke bawah. Apa yang ada dibenak anak saat kita mengajak
anak berkenalan dengan tulisan, mengajarnya membaca.
- Membaca adalah sesuatu yang dia lakukan
sejak awal.
Karena itulah apa yang dia baca setiap hari. Apa yang dia lihat
secara visual, gambaran dunia sekitar dia adalah tulisan. Setiap
saat dia melihat sesuatu, masuk ke lingkungan baru, dia belajar
membaca dan proses ini dimulai sejak saat seorang bayi membuka
matanya. Membaca di sini berarti merekam informasi visual yang
ada di sekitarnya dan menginputkannya ke dalam memorinya. Ini
adalah proses belajar yang paling berharga. Sama halnya saat bayi
belajar bicara, stimulasi yang diterimanya adalah saat sang bayi
mengamati orang dewasa saling bicara.
- Membaca teks atau tulisan adalah tahapan
berikutnya. Dan ini baru mulai bermakna bagi anak saat teks
atau tulisan sudah mulai menjadi bagian dari minatnya, menjadi
bagian dari dunianya yang semakin lama semakin luas, menjadi bagian
dari salah satu yang dirasa anak perlu ikut dieksplorasi.
- Tahapan awal membaca adalah kemampuan
mengamati.
Kemampuan anak untuk mengamati harus kita bantu semakin lama semakin
meningkat. Pada satu tahap anak bisa membedakan antara anjing
dan kucing, tapi pada tahapan usia berikutnya, anak akan mulai
membedakan bahwa anjing pun berbeda-beda jenisnya. Lebih jauh
anak mampu membedakan jangkrik dan belalang.
Begitu seterusnya. Ini adalah bekal utama, dasar di mana pada
suatu titik anak akan mampu membedakan huruf E dan F atau huruf
B dan P dan D...
Kepingan Puzzle yang Harus Dilengkapi
Jelas bahwa proses belajar membaca adalah
sangat terkait dengan nalar - kemampuan kognitif anak untuk membedakan
(simbol). Kemudian tahap berikutnya adalah kemampuan anak untuk
mengaitkan simbol dengan bunyi. Bahwa huruf A itu punya bunyi
tertentu yang berbeda dengan bunyi huruf N. Begitu seterusnya.
Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan
adalah minat dan rasa ingin tahu anak. Ini yang hampir
tidak pernah diperhatikan oleh format-format persekolahan formal
pada umumnya, karena kurikulum yang begitu sarat target. Anak mampu
atau tidak, minat atau tidak, bukan urusan karena mau tidak mau
harus belajar baca... Orang tua dengan demikian juga terkondisikan
untuk membuat anaknya mampu mengikuti. Dalam banyak kasus karena
anak belum bisa mengikuti baca tulis di sekolah, akhirnya orang
tua pun atas desakan guru atau kekhawatirannya sendiri akhirnya
memasukkan anak ke les baca tulis. Kita tahu juga banyak sekali
kasus di mana anak jadi tidak ingin pergi sekolah semata-mata karena
pelajaran baca tulis.
Harus kita yakini sama-sama bahwa belajar
merupakan naluri alamiah manusia yang sangat kuat. Kalau kita mencoba
bayangkan bagaimana manusia pertama kali mencoba menciptakan tulisan,
itulah besarnya kemampuan manusia untuk bernalar dan mencipta. anak
kita punya kemampuan yang sama mungkin dengan kecerdasan yang bahkan
berlipat.
Juga perlu kita sepakati sama-sama bahwa
ada proses-proses alamiah yang tidak bisa kita paksakan (termasuk
tahapan perkembangan pada anak). Saat proses tersebut kita paksakan
sebelum tingkat perkembangan anak tercapai ini bisa membawa dampak
negatif pada anak. Anak akan mengalami stress (tekanan-tekanan)
yang seperti kita orang dewasa alami, bisa punya dampak atau akibat
sampingan. Yang sederhana, anak hanya kesal, bosan, merasa tidak
suka sekolah, benci belajar, jadi 'nakal', hingga ke tahap 'kerusakan'
apakah secara syaraf, motorik dan lain-lain saat tekanan yang dialami
melebihi kemampuan anak untuk menerimanya. Juga perlu kita ingat
bahwa tahapan perkembangan dari satu anak ke anak lainnya berbeda-beda.
Untuk anak mencapai sebuah bidang kemampuan,
kita yakini ada beberapa komponen aspek (kepingan puzzle) yang perlu
dimiliki anak. Contohnya untuk baca tulis :
1. Minat dan rasa ingin tahu anak.
2. Aspek kemampuan yang dibutuhkan sudah dimiliki anak, sederhananya
seperti ilustrasi di bawah ini

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa kalau salah satu kepingan
belum dimiliki anak, bidang kemampuan tersebut tidak akan tercapai.
Yang bisa kita lakukan (dan ini yang kita
terapkan di Smipa) adalah memberikan stimulan (rangsangan) sebanyak
mungkin kepada anak-anak untuk masing-masing kepingan puzzle
menjadi bentuk yang dibutuhkan, tanpa ada target / patokan yang
kita tentukan untuk anak.
Tahapan Belajar dan Target Kurikulum
Lalu bagaimana di sekolah, bagaimana dengan
target kurikulum (baca tulis) di Semi Palar?
Ada dua pendekatan kita menetapkan target
kurikulum.
Yang pertama adalah target yang kita tentukan untuk anak. Anak yang
harus menyesuaikan diri kepada target yang kita tentukan. Yang bisa
mencapai, OK, kita beri nilai bagus; yang tidak bisa mencapai kita
beri nilai kurang.
Ini yang biasa diterapkan di sekolah-sekolah pada umumnya, karena
memang ini paling mudah diterapkan. Program sekolah tidak pernah
salah. Yang selalu bermasalah adalah para murid, dan orang tua akan
ikut terjebak dalam arus ikut mendorong/menekan anak mencapai target
kurikulum sekolah.
Jenis kedua adalah target yang kita tentukan
untuk kita sendiri (sekolah / guru). Ini yang kita terapkan di SMIPA.
Target kurikulum baca tulis di SMIPA sudah kita susun. Target kurikulum
ini kita rancang berdasarkan rata-rata tahapan perkembangan kemampuan
anak. Target kurikulum diterjemahkan ke dalam program yang akan
disampaikan pada anak. Anak menjalankan program tanpa terfokus ke
nilai, tanpa tekanan apapun. Yang kita lakukan adalah mencatat perkembangan
masing-masing anak sesuai respon yang dia berikan terhadap program
kita. Dan di sini kita mengevaluasi apakah target kita sesuai atau
tidak, apakah stimulasi yang kita berikan menghasilkan respon atau
tidak... Kita-lah (sekolah & guru) yang menyesuaikan target,
bukan anak. Selama kita yakin bahwa anak antusias mengikuti kegiatan,
kita yakin bahwa stimulasi yang kita berikan diterima oleh anak.
Mengenai tahapan belajar anak dan kaitannya
dengan stimulasi, saya kutip sedikit dari John Holt di bukunya
: Learning All The Time (How small children begin
to read, write, count, and investigate the world, without being
taught)
What
children need to get ready for reading is exposure to a lot of
print. Not pictures, but print. They need their eyes in print,
as when smaller they bathe their ears in talk. After a while,
as they look at more and more print, these meaningless forms,
curves, and squiggles begin to steady down, take shape, become
recognizable, so that the children, without yet knowing what letters
or words are, begin to see... ... that this letter appears here,
and that group of letters appear there, and again there. When
they've learned to see the letters and words, they are ready to
ask themselves questions about what they mean and what they say.
Dari apa yang kami alami di Smipa, tahapan
membaca dan menulis rasanya agak sulit untuk digambarkan secara
tegas, salah satunya karena proses berpikir dan belajar anak yang
dinamis dan non-linear.
Di sini kita coba uraikan tahapan anak menulis yang kompleks :
- Menggambar ekspresif : menggambar adalah
menulis bagi anak usia dini. Karena gagasan dan pemikirannya.
Ilustrasi yang paling mudah kita pahami adalah tulisan hieroglyph
(tulisan mesir kuno)
Masing-masing huruf adalah gambar yang mensimbolisasi sesuatu.
- Kalau anak banyak menggambar, motorik
halusnya akan banyak terasah, membantu dia saat nanti menggoreskan
bentuk-bentuk huruf. Apa yang digoreskannya di gambar adalah gagasan-gagasan
dia saat nanti bisa sudah mampu menuangkan gagasannya melalui
tulisan.
- Pura-pura menulis awal (pretend writing)
: anak-anak atas inisiatifnya ingin menulis sesuatu.
huruf -hurufnya belum berbentuk tapi sudah bermakna bagi anak.
Biasa disebut menggambar huruf. Untuk anak mereka ada dalam tahapan
meniru bentuk (huruf) tanpa tahu maknanya.
- Pura-pura menulis lanjut : anak-anak ingin
menulis sesuatu dan mulai menuliskan bentuk-bentuk mirip huruf
walaupun masih terbalik, penyok-penyok, miring dll.
- Meniru tulisan : anak-anak meniru tulisan
yang dilihatnya, atau dicontohkan kakak atas ide anak sendiri.
- Menulis mandiri awal : anak-anak mulai
mencoba menulis sendiri dan masih perlu dibantu kakak bentuk-bentuk
huruf yang belum betul-betul diingatnya.
- Menulis mandiri : anak-anak menuliskan
sendiri gagasan pemikirannya atas inisiatifnya sendiri.
Satu hal yang juga penting kita perhatikan
adalah kesalahan penulisan, bentuk huruf yang belum sempurna adalah
proses yang juga harus dilalui anak. Dengan terus berkembangnya
nalar dia, dan stimulasi yang terus diterimanya, dia akan memperbaikinya
sendiri. Inventive Spelling (ejaan yang diciptakan anak sendiri)
seperti misalnya hiyu, buwaya menunjukkan kemampuan anak
untuk berpikir dan kepercayaan diri anak untuk belajar menulis secara
mandiri.
Seperti pernyataan beberapa pakar seperti
Kenneth Goodman, Charles Read dan Piaget :
children's errors are not accidental but reflect their systems
of knowledge. If teachers (we) can regard errors as sources of
information for instruction rather than mistakes to be condemned
and stamped out, students
should be able to assume this
more constructive view too.
Learning All The Time, John Holt, page 17
Penutup
Judul bab pertama buku Learning All
The Time saya pikir menggambarkan semuanya : Reading
and Trust.
Trust adalah sesuatu yang paling berharga yang bisa kita
berikan kepada anak. Rasa percaya bahwa anak-anak kita cerdas, rasa
percaya bahwa anak-anak kita terus belajar, dan rasa percaya bahwa
pada saatnya dia akan melalui tahapan proses tersebut. Energi positif
lewat rasa percaya tersebut akan mendorong anak-anak kita maju pesat,
pada waktunya.
Sebagai penutup, mungkin sedikit menyimpang,
Dalai Lama menyebutkan 2 emosi dasar yang dimiliki manusia : Love
dan Fear : rasa Cinta dan rasa Takut. Segala sesuatu yang positif
berakar dari rasa Cinta dan sebaliknya segala yang negatif muncul
dari rasa takut kita.
Trust, kita tahu dari mana dia berakar. Kita
sebagai orang tua bisa memilih mana yang harus kita sampaikan kepada
anak-anak... ketakutan kita atau cinta kita untuk mereka... Rasa
percaya adalah ekspresi cinta yang paling besar.
Menghargai proses-proses alamiah yang seharusnya
berjalan adalah bagian dari Spiritualitas kita, bagian dari keyakinan
kita kepada Sang Pencipta.
Salam Smipa.

|