kembali ke halaman depan

 

links & direktori

 

 

 

'Guru'

Innocentia Ine | Februari 2006

 

Lebih dari 20 tahun sekolah, profesi guru hampir tidak pernah ada dalam benak saya. Tapi sepertinya saya sudah pernah bertemu dengan berbagai karakter guru atau dosen,. Dari yang asik banget, yang baik banget, yang pengertian, yang antusias dan wawasannya luas, yang alim banget dan "by the book", yang unik banget dan "super improved", yang judes dan galak, yang killer dan suka ngerusak barang kalo marah, yang lempeng dan ga mau repot, yang centil atau cunihin, yang ngajarnya itu lagi-itu lagi, atau yang ngajarnya cepet banget kayak ngejer setoran, yang banyak bengongnya, atau yang kalo dikelas ga pernah ngajar…dll. Baru di 2 tahun terakhir masa pendidikan saya bertemu dosen-dosen yang asik… yang sempat juga membuat saya berpikir dan tergoda untuk mengajar selesai saya sekolah nanti, karena saya ingin bisa seperti mereka, paling tidak menghadirkan suasana belajar seperti itu. Suasananya santai, seperti diskusi antar rekan sepekerjaan, dan kelasnya kecil membuat saya mau tidak mau harus 'tampak'. Saya tidak merasa diajar dalam artian pasif / didikte, tapi di kelas saya seperti menghadiri forum diskusi yang membuat ide-ide saya bermunculan.

 

Di 3 tahun terakhir ini karena anak saya mulai bersekolah, tapi utamanya setelah berkecimpung di dunia anak dan pendidikan, saya kembali menilik dunia sekolah, termasuk juga para gurunya. Kembali saya bertemu dengan para guru balita yang beragam; yang kalem, yang heboh, yang kreatif, yang kaku, yang gloomy, yang spontan, yang ceria, dll.
Dunia pendidikan yang saya pikir masih sama ternyata sudah jauh berubah. Terutama di level pendidikan prasekolah dan dasar. Guru tak lagi sekedar menyampaikan pengetahuan yang sama dari tahun ke tahun dan menyeragamkan pola pikir seperti jaman Oemar Bakrie, tapi dituntut untuk mau berkembang dan belajar terus, serta lebih personal dalam menghadapi anak didiknya yang masing-masingnya adalah individu yang unik.

 

Saya baru kemudian mulai memahami bahwa guru yang baik itu panggilan, sehingga mereka bisa enjoy / menyukai apa yang mereka lakukan setiap hari. Bahwa pengajar yang asik itu talenta, sehingga mereka bisa membuat suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan; membuat orang tertarik untuk mencari tahu lebih jauh, memberi pengetahuan dengan jelas tanpa berasa menggurui…
Bahwa guru yang baik itu teman yang baik juga; teman bermain untuk anak-anak (karena bermain adalah urusan paling serius untuk anak-anak), teman ngobrol n tempat bercerita (karena bila didengar dan dihargai setiap anak akan punya cerita yang banyak sekali). Ia juga seorang comforter yang bisa memahami, kemudian membantu anak menghadapi rasa sakit baik fisik maupun emosi. Dan ia juga seorang role model karena anak akan banyak belajar dengan memperhatikan dan mengikuti si guru. Bahwa mengajar itu membutuhkan proses panjang yang berkesinambungan yang jauh lebih panjang dan kompleks dari apa yang terjadi didalam kelas saja.

 

Di Smipa, guru-guru kami panggil kakak, untuk lebih membangun suasana rumah belajar yang tidak terlalu formil. Menjelang tahun ajaran kedua ini ada 5 orang kakak sebagai pengajar resmi. Mereka semua adalah pengajar muda yang mempunyai niat yang tinggi untuk menjadi guru, dan tentunya masih harus belajar banyak untuk bisa menjadi kakak sekaligus guru yang baik.Tapi ternyata saya sendiri juga banyak belajar dari kakak-kakak ini. Saya jadi mulai mengerti apa yang dimaksud dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa… Ucapan yang terasa sangat klise, yang sering saya dengar tanpa benar2 mengerti apa maksudnya. Tapi sekarang saya merasa bahwa guru yang baik, memang seperti itu adanya…

 

Dalam waktu 6 bulan berjalan di Smipa, banyak perubahan terjadi tanpa disadari; anak yang tadinya ragu dan malu sudah berani tampil, anak yang tadinya heboh dan jail sudah bisa ikut kegiatan dengan tenang dikelas, anak yang tadinya harus ditemani ibu atau mbak sudah bisa masuk sendiri, anak yang tadinya ikut-ikutan teman sudah bisa punya ide dan pendapat sendiri, anak yang tadinya masih belum bisa memegang alat tulis dengan benar jadi suka menggambar… masih ada juga sih yang masih suka tanya "hari ini aku sekolah ga ma?" … tapi kemudian waktunya pulang dia akan merajuk, ga mau pulang… Tapi yang paling mendalam bagi saya adalah ketika anak yang tadinya tidak pedulian, suka ngambek, suka pukul dan tidak bisa diajak komunikasi berubah menjadi anak yang bisa diajak bicara, suka cerita, spontan minta maaf kalau salah, tidak lagi pukul teman atau kakak, dan suka tertawa… renyah sekali : Rasanya tanpa pengertian dan sayang yang tulus perubahan seperti itu akan sukar sekali terjadi.

 

Yah namanya guru ya memang harusnya begitu… mungkin akan banyak orang bilang begitu, tapi apakah sudah semua guru begitu? Kalau mengingat pentingnya peran guru sebagai figur yang digugu seorang anak dari sejak ia belajar berjalan, bicara, berpikir dan bertingkah laku, hal itu memang menjadi konsekwensi profesi guru. Tanggung jawab yang berat memang. Tapi bila dijalankan dengan tulus dan suka hati sepertinya akan membuahkan hasil. Mengutip sedikit kata-kata dari sajak Prof. Winarno Surahman, ["Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?"] "Tanpa sebuah kepalsuan guru artinya ibadah. Tanpa sebuah kemunafikan semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan..."