|
No-TV-Week
. Oh Maannnn!!!
mencoba membangun kembali kebersamaan dalam keluarga
Senja itu di rumah satu keluarga suasana memanas
Ibu berdiri melipat tangannya dengan muka bertekuk, jauh dari cantik.
Di depannya kakak beradik asik duduk dengan mata melekat erat ke
TV. Perhatian penuh tercurah ke satu acara kartun lucu nan konyol..
Tak sedikitpun tersisa perhatian, mata dan telinga untuk hal lain.
Panggilan Ibu untuk segera cuci tangan dan makan malam sepertinya
tak terdengar
Panggilan terakhir itu bahkan sudah untuk yang
ke tiga kalinya, yang hanya bersahut gumaman tak jelas. Jadi, marahlah
si Ibu. Sang Ayah yang sedang duduk mengerjakan sesuatu di depan
komputerpun tergopoh turun dari ruang kerjanya, mungkin dia juga
seperti tersadarkan kalau dari tadi juga sebenarnya sudah diajak
untuk makan
.
Program TV-pun berganti ke acara live berjudul
"Ibuku marah-marah". Mungkin saat itu sebenarnya adalah
titik batas toleransi/kesabaran yang sudah habis. Suasana tak enak
masih berlanjut di meja makan. Ibu terdiam, anak-anak lesu menyuapkan
nasi ke mulut, ayah juga tak banyak bicara. Hening, hanya ada suara
sendok garpu beradu piring.
Memang sudah beberapa hari - malah mungkin
telah berjalan cukup lama, kegiatan kita di rumah tanpa disadari
sepertinya semakin sibuk masing-masing, sendiri-sendiri. Anak-anak
semakin asik dan kerap dengan tontonan TV-nya, Ayah sibuk dengan
pekerjaan dan komputernya, juga Ibu dengan buku bacaannya. Sepertinya
kita semua ada di satu tempat bernama rumah, namun tak terasa bersama.
Sehabis makan ayah ibu terlibat satu diskusi
panjang. Disadari bagaimana TV sudah begitu dan kian memukau anak-anak,
terutama si Adik di usianya yang baru 5 tahun bisa tahan estafet
nonton 4-5 acara dari Disney Channel, jika saja tidak diingatkan
untuk berhenti. Acara nontonpun kerap jadi ajang pertengkaran kakak
dan adik. Kakak (9 tahun) sebenarnya lebih senang melihat program
dari Animal Planet atau Discovery Channel, dan suka
protes karena bosan disuguhi tontonan kartun melulu. Adiknya masih
harus belajar untuk bisa berbagi dengan adil. Yang kemudian sering
terjadi adalah ribut berebut remote control. Satu aturan keluarga
yang digariskan tentang menonton adalah "Boleh nonton hanya
kalau tidak saling ribut / marah-marah", ternyata membawa ke
kondisi seringnya Kakak yang mengalah. Meskipun dongkol disertai
omelan panjang pendek, Kakak mencoba menasihati Adik tentang tak
baiknya sifat mendominasi : "Iko mah egois, ga mau bagi-bagi,
tadi kan Rico udah pilih 1 acara!!!", atau omelan dengan pendekatan
keilmuan : "Iko kalo nontonnya film kartun terus kapan pinternya??!
Mau nanti bisanya cuma kayak Mr. Bean?!". Kakak yang kesal,
beracting marah besar dan beranjak pergi : "Udah Iko nonton
sendiri aja!!". Si Adik cuek bebek, seakan menderita selective
deafness
, pikiran dan perhatiannya sudah tercurah kembali
ke dunia maya. Melihat itu, Ibu meminta Adik mematikan TV yang memang
langsung dilakukan meski sambil mengajuk, mukanya jelas menunjukkan
kesal.
Di saat itu sebagai orangtua, ada tanda bahaya
samar terdengar, dan terdengar semakin kencang
Kita lalu membicarakan hal itu, mulai dari mencoba mengurut kembali
ke belakang. Dulu frekuensi menonton TV tak sebanyak sekarang. Dulu
anak-anak selalu bersemangat dibacakan buku, duduk nyaman dipangku
Ibu menjelajah masuk ke dunia ajaib cerita/dongeng sambil banyak
terlibat tanya-jawab bahkan bisa sampai ke diskusi tingkat berat
.
Kini anak-anak lebih sering menjawab : "Iya, tapi nanti sebentar"
saat diajak baca. Dulu anak-anak lebih sering menggambar, membuat
macam-macam gambar untuk dihadiahkan khusus bersama peluk dan cium
untuk Mama atau Papa sesampai di rumah, sekarang itupun rasanya
semakin jarang. Dulu sering ayah dan anak-anak duduk asik sampai
berjam-jam merancang sesuatu dengan Lego, ada kendaraan penolong
binatang, binatang ajaib, robot, pesawat Star Wars dan macam-macam
lagi. Juga saat-saat kita semua hanya berbaring bermalas-malasan
di karpet tanpa melakukan sesuatu yang khusus, selain mengobrol
dan bercanda berguling-guling
Menyusup rindu untuk semua suasana
itu, semakin diingat semakin terasa kehilangan. Rasanya tak rela
semua itu dirampas sedikit demi sedikit menuju habis oleh satu benda
mati berwujud persegi bernama Televisi!
Saat kita memikirkan itu dengan hati dan
kepala dingin, kita sampai ke pengakuan bahwa kita berandil besar
di permasalahan ini. Bagaimana tidak? Diingatkan ke Ayah, di rumah
sekarang hampir tidak ada hari tanpa ber-komputer-ria, dari pagi
sampai malam. Istilahnya tak perlu repot cari ayah dimana, pasti
ada di meja kerjanya sedang komputeran. Semakin dingat-ingat semakin
besar rasa bersalah, Ibu juga lebih sering menolak halus saat diajak
main oleh anak-anak. Dengan berbagai alasan : "Aduh Mama baru
pulang masih cape, boleh Mama minum dan istirahat dulu ya?"
Atau : "Sebentar ya, Mama lagi ada kerjaan, tanggung nih".
Dan itu bisa berlangsung dan berlanjut sampai 1 atau 2 atau 3 jam!!!
Saat tersadar dan beranjak, anak-anakpun sudah kehilangan selera
mainnya, dan sekarang asyik duduk di muka TV. Kalau mau jujur, memang
ternyata kita sendiri yang mendorong itu semua terjadi. Kita hanya
ada hadir secara fisik, tapi kita semakin sibuk sendiri - lupa untuk
memerlukan meluangkan waktu khusus untuk bisa bersama anak.
Dan dalam usaha mencoba menjadi orangtua
yang baik, kita lalu bersepakat untuk jangan kalah dan menyerah.
Kita rebut kembali apa yang menjadi hak kita. Bagaimana ya caranya?
Kita semua duduk dan bicara. Ayah mengingatkan pada kegiatan-kegiatan
bersama yang seru menyenangkan yang dulu sering dilakukan bersama.
Anak-anak pun banyak menimpali dengan pecikan-percikan kenangan
lucu-lucu yang diingatnya. Lalu Ayah mengajak untuk mulai melakukan
itu lagi. Ayah bilang akan coba tidak banyak lagi ber-komputer di
rumah, Ibu juga bilang akan tidak terlalu sering lagi baca buku
sendiri atau urusan kerjaan
Anak-anak semula bingung saat
ditanya mau coba melakukan apa untuk berubah. Ayah akhirnya memberi
usul : "Gimana kalo kita semua ga nonton TV dulu selama
seminggu?". Adik langsung melipat tangan, menghempas diri
duduk melesak dalam ke sofa, keras berucap : "OH Mannnn!!!",
tanda ini masalah super serius untuk dia, masalah yang berat sekali.
Geli juga menyaksikan gaya protesnya yang lucu
Tapi rasa empati
membuat kita memunculkan wajah prihatin, "Iya Rico, tapi kalau
kita keasikan nonton terus kita jadi jarang deh main sama-sama".
Si Kecil kelihatan berpikir keras, bertanya : "Seminggu itu
segimana lamanya?" Karena itu hari Sabtu, diberi gambaran sampai
week-end depan, pas Rico terakhir di sekolah program bahasa Inggrisnya
Miss Miming (yang memang berlangsung setiap hari Jumat). Itu 7 kali
bobo malem". "Wah itu mah lama banget!!", masih bersungut.
"Terus Iko mesti ngapain dong kalo ga boleh nonton TV?",
nadanya terdengar lebih halus, mulai bisa terima. "Iko sama
Inka bisa gambar, bikinin Mama Papa macem-macam gambar kayak dulu,
atau main Lego, atau bantu Inka bikin macem-macem pernak-pernik
lucu-lucu
". Si kecil masih mencoba menawar : "Yah
asikan juga nonton..". Ditanggapi : "Iya sih nonton itu
asik, Mama Papa juga seneng nonton tapi mau ikutan ga nonton juga
lho" (nah ini sebenarnya butuh perjuangan tersendiri untuk
si Ibu yang rutin hampir setiap malam merasa terhibur oleh "Friends"
dan merasa seru dengan "CSI"). Bermuka bijak, Ibu berucap
: "Ya udah, kita semua coba dulu aja ya
" (dalam
hati sih membathin : Alamak.. seminggu kagak nonton?!!). Semua akhirnya,
mengucap setuju.
Setelah hari itu, sepanjang hari terisi dan
terasa ajaib! Suasana rumah langsung terasa berbeda. Di ruang TV,
si Ayah dan Rico asik membuat satu robot besar dari hasil bongkaran
beberapa Bionicle, sambil ayah dan anak itu tak henti bertukar cerita
seputar super hero, wah seru. Si Kakak yang memilih menguntai kalung
manik-manik, sempat terucap :" Gara-gara Iko ga bisa atur waktu
nonton, kita semua jadi ga bisa nonton nih". Hanya sekedar
menyampaikan tanpa ada nada kesal, tanpa kemarahan sama sekali
Disambungnya : "Tapi gapapa lah Ko, udah ini kita gambar aja
yuk!!" Mengharukan, bagaimana seorang anak sekecil itu mampu
menyikapi masalahnya dengan sangat dewasa
Malam itu giliran Rico memimpin doa, terucap
terimakasih untuk kebersamaan kita hari itu. Saat kedua anak itu
sudah tertidur pulas, jam 10 - otomatis tangan meraih remote control,
mencari "Friends". Begitu menyala, langsung teringat akan
kesepakatan tadi : No-TV-week! Malaikat baik dan si jahat berperang
di diri. Yang satu berbisik : Ah anak-anak udah pada tidur ini,
toch mereka juga tak akan tau kalau aku nonton
Tapi untunglah
suara hati masih lebih jernih terdengar. Janji adalah janji, yang
tingkatannya terasa semakin penting saat itu berhubungan dengan
wajah-wajah mungil nan polos. Oke, selamat malam Friends, kita ketemu
lagi minggu depan saja.
Hari-hari berikutnya makin banyak yang didapat.
Ada hadiah gambar macam-macam hewan dasar laut, ada juga gambar
Dino di gunung. Masing-masing kertas jelas bertuliskan untuk siapa
karya itu dibuat. Kadang ada sepenggal kalimat berisi cerita gambar
itu. Yang sungguh membuat hati melambung adalah saat satu siang
si Kecil mendekat, memberikan gambar yang sebelumnya ia sembunyikan
di balik punggungnya dan berkata :
"Iya Ma, bener juga yang Mama bilang
" Tak
menangkap jelas maksudnya, bertanya : "Bener apanya Ko?".
"Iya ternyata kita bisa kerjain macem-macem,
ga harus nonton TV terus
Iko jadi bisa bikinin gambar ini
untuk Mama, nih
". Di saat
itu kita yakin, apa yang sedang coba kita sampaikan kepadanya sudah
dipahami penuh olehnya.
Lalu kita jadi bisa sering terlibat bersama.
Kartu Uno yang sudah lama tergolek tak tersentuh di lemari, sekarang
jadi media kita bisa saling ketawa, sampai saling meledek.. akrab.
Acara baca buku kembali menjadi kegiatan yang 'asik punya'. Cerita
yang bisa menjadi awal dari percakapan/semacam diskusi tentang berbagai
topik bahasan. Kita jadi punya banyak kesempatan untuk saling mengungkapkan
perhatian dan rasa sayang.
Saat-saat seperti itu, sungguh terasa tak
ternilai harganya, satu kebahagiaan yang tak bisa dibeli. Kesempatan
yang umurnyapun tak akan panjang, dalam sekejap mata tanpa kita
sadari tiba-tiba saja anak-anak kita akan telah bertumbuh dewasa.
Mungkin sebentar lagi mereka tak lagi sukacita menyambut kebersamaan
berformat seperti ini, dan butuh jalinan interaksi orangtua-anak
dalam bentuk lain. Namun yang pasti, kebutuhan untuk itu akan selalu
ada, sampai kapanpun. Untuk anak dan juga orangtua untuk merasa
dikasihi, disayang dan diterima.
Dihadapkan dengan kesibukan rutin kita, kerap
dirasa memang waktu yang kemudian ada menjadi sangat terbatas -
selalu ada yang rasanya penting untuk dikerjakan. Pilihan ada pada
kita orangtua untuk menyusun urutan prioritas dan memanfaatkan sebijak
mungkin waktu untuk melakukan bermacam kegiatan bersama yang dirasa
paling cocok dengan kondisi dan karakter keluarga kita, sehingga
terus dapat terbangun kebersamaan, kedekatan dan keindahan di antara
kita dan anak.
Satu komitmen kecil bisa berdampak dashyat.
Nah, jadi
. matikan TV sekarang, juga komputer. Kita main
yuk Nak !!!
Bandung 15 Februari 2006 | LSK

|